Peningkatan kapasitas harus Diawali dengan kesadaran

Pada tulisan saya sebelumnya, saya menulis tentang sebuah makna kebahagiaan dimana bahagia itu adalah ketika kita mampu memberikan manfaat kepada orang lain dan salah satu bentuk kebermanfaatan kita kepada orang lain tersebut adalah ketika kita mampu membantu orang lain untuk menemukan dan meningkatkan kapasitas orang lain yang dengan kapasitasnya itu mereka mampu menemukan level level kebahagiaan mereka. Pada tulisan kali ini saya akan mengulas sebuah kaidah dasar tentang peningkatan kapasitas diri yang harus diawali dengan sebuah kesadaran. Dan kesadaaran ini juga yang menjadi kesalahan kita pertama kali ketika kita berbicara tentang kapasitas.

Suatu saat di kantor saya berdiskusi dengan salah satu supervisor operasional yang kebetukan datang ke kantor pusat untuk menghadiri acara Ulang tahun perusahaan. Kami berdiskusi panjang lebar tentang kondisi operasional di lapangan serta nilai nilai kebersamaan dari core values perusahaan kami. Sampai pada suatu ketika dia menyampaikan sebuah keluhan kepada saya, dia mengatakan “Tapi saya heran pak, kenapa saya yang masih supervisor ini diberikan pekerjaan pekerjaan atasan saya. Yang seharusnya dikerjakan atasan saya dan harusnya menjadi tanggung jawab mereka, kenapa saya juga harus mengerjakan nya..?” saya kemudian kembali bertanya kepada dia “Ketika anda mengerjakan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab atasan anda tersebut, apakah anda berhasil mengerjakannya atau tidak berhasil mengerjakannya? Dan jika anda diberikan kesempatan yang kedua kali anda akan memilih yang mana? Apakah anda akan tetap melaksanakan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab atasan anda atau anda tidak mau menerima pekerjaan itu?” dia menjawab “Selesai pak, saya menyelesaikan pekerjaan itu sekalipun itu pekerjaan atasan saya. Saya mampu menyelesaikan. Dan jika diberikan kesempatan yang kedua saya memilih tidak mau menerima pekerjaan itu, karena saya memiliki pekerjaan sendiri yang harus saya selesaikan”.

Apa yang di pikirkan oleh supervisor ini adalah masalah kesadaran yang dia miliki. Dan kesadaran nya akan menentukan kapasitasnya. Jika dia menyadari bahwa dengan melakukan pekerjaan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab atasannya sesungguhnya kapasitasnya dilatih menjadi seorang atasan. Menjadi seorang dengan jabatan dan tanggung jawab yang lebih tinggi.

Kapasitas kita tidak akan meningkat dan kita akhirnya tidak menemukan kapasitas kita yang sebenarnya jika masih terdapat masalah kesadaran yang belum terbuka ini dalam diri kita. Saya akan berikan sebuah ilustrasi atau contoh kembali tentang penyakit kesadaran yang akhirnya akan membatasai bahkan akhirnya akan memperkedil kapasitas kita. John C Maxwell dalam bukunya No Limit memberikan sebuah ilustrasinya. Seorang tua sedang berjalan dan melihat ada seorang anak kecil yang sedang memancing ikan. Saat berjalan menuju anak kecil tersebut, sang anak mendapatkan dua ikan kecil di tempat penangkapan ikan nya. Dan ketika sudah dekat dengan anak kecil itu, orang tua melihat anak kecil berhasil menangkap ikan yang besar. Dua kali lipat dari dua ikan kecil yang telah didapatkan sebelumnya. “ikan yang cantik” kata orang tua itu. Namun kemudian anak kecil tersebut melepaskan kembali ikan besar tersebut. Yang ternyata ikan kakap. “apa yang kau lakukan, bukankah ikan yang kau tangkap tadi besar sekali?” seru si orang tua tadi. “Ya” jawab anak itu, “tetapi penggorengan saya hanya 23 sentimeter tidak akan muat menggoreng ikan kakap tadi”.  Ilustrasi cerita ini begitu menggambarkan bahwa pemikiran seseorang akhirnya memberikan sebuah pembatasan terhadap hasil atau keberhasilan yang mereka akan dapatkan. Kesadaran akan hal ini yang harus perbaiki karena ini menjadi masalah yang serius bagi kita.

Perjalanan menuju kesadaaran diri terkadang sangat sederhana, namun membutuhkan waktu, dengan bantuan orang lain yang menyadarkan kita. Terkadang kita membutuhkan seseorang yang benar benar tahu cara untuk membantu kita dalam menemukan kesadaran diri ini. Kesadaran diri adalah ketrampilan yang kuat. Kesadaran diri akan memampukan kita melihat diri kita secara jelas. Kesadaran diri akan menentukan keputusan kita dan membantu kita dalam menemukan dan menimbang nimbang sebuah peluang. Kesadaran diri memungkinkan kita untuk menguji potensi kita. Kesadaran diri akan memaksimalkan kemampuan kita dan meminimalkan kelemahan kita. Kesadaran ini akan membuka pintu kapasitas yang lebih besar. Dan kapasitas yang lebih besar ini akan membuka kesempatan dan mendapatkan kesempatan untuk berhasil yang lebih besar.

Kesadaran diri yang pertama dan menurut saya adalah yang paling utama adalah kesadaran bahwa kapasitas kita bukanlah ukuran dengan volume yang tetap. Dengan ukuran dengan batas tertentu. Jika saya memberikan sebuah ilustrasi, bukan kurang, rata rata atau besar. Kapasitas kita tidak bersifat tetap dan dia akan berubah dengan batas yang tidak terhingga sesuai dengan potensi potensi atas kapasitas yang kita miliki itu sendiri. Jika anda seperti kebanyakan orang lainnya, saya yakin anda menginginkan lebih dalam kehidupan anda dibandingkan dengan yang anda alami dan anda dapatkan saat ini. Mungkin anda belum berhasil mencapai semua yang anda inginkan dalam hidup. Mungkin anda belum puas sepenuhnya dengan kemajuan anda. Sudahkan anda selesaikan semua yang ingin anda lakukan ?. apa yang menghalangi anda ? apa yang mambatasi anda ? Apakah anda tahu apa yang membatasi anda ? jika anda tidak bisa mengetahui hal yang membatasi anda, bagaimana anda bisa mengalahkan atau menyingkirkannya ?

Sebagai seorang praktisi development saya sering kali menemui kondisi ini. Menemui orang orang yang tertutup kapasitasnya karena sebuah kesadaran yang salah. Sesungguhnya sebuah kesadaran yang salah atas kapasitas diri dari seseorang yang akhirnya akan menutup kesuksesan mereka. Suatu ketika saya memberikan konseling kepada salah seorang operator alat berat yang sudah senior untuk kami assessment dan kami promosikan menjadi seorang foreman atau seorang pengawas. Namun beliau tidak bersedia dan anda tau apa yang menyebabkan beliau tidak bersedia ? beliau mengatakan “saya tidak mampu pak Saudi, saya kurang ilmu, pendidikan saya hanya SLTA dan saya tidak bisa mengoperasikan komputer dengan baik. Saya hanya belajar kadang kadang bersama dengan anak saya yang sudah kuliah ketika saya cuti.” Ketidak mauan beliau untuk menjadi seorang pengawas ini karena sebuah kesadaran yang salah. Dan saya yakin kebanyakan kita barangkali akan mengatakan hal yang sama. Ketika kita akan diberikan sebuah jabatan dengan tanggung jawab yang lebih tinggi dan kita belum memiliki pengalaman pada jabatan tersebut, maka kita akan menyatakan “saya tidak bersedia karena saya tidak akan sanggup”. Kesadaran ini yang harus kita ubah. Kesadaran ini yang harus kita buka dan kita hancurkan. Karena kapasitas kita tidak akan tersingkap jika tidak ada kesempatan dan kita mencobanya. Sedangkan kesempatan itu tertutup dan akhirnya hilang karena kesadaran kita yang salah.

Saya mengatakan kepada sang bapak “Apa yang menjadi bukti bahwa Bapak tidak mampu?”pertanyaan sederhana yang bingung sang bapak menjawabnya. Jangankan Bapak tersebut, orang dengan gelar pendidikan yang sangat tinggi pun tidak akan mampu memberikan jawaban atas pertanyaan saya kepada sang bapak tersebut. Karena pertanyaan saya adalah sebuah kapak yang akan menghancurkan kesadaran yang keliru dari sang bapak. Pertanyaan yang akan mampu di jawab ketika kesadaran nya sudah di buka dan dihancurkan. Pertanyaan yang harus dijawab dengan sebuah pilihan untuk mencoba dan melakukan usaha terbaik atas kesempatan itu. Hal ini pun berlaku kepada kita. Jika kita pernah mengalami kondisi yang sama seperti bapak sang operator alat berat tersebut, maka mari kita merenung dan berusaha menjawab pertanyaan yang saya sampaikan tadi. Dan in sya Alloh, pertanyaan saya akan menjadi sebuah cara yang jitu untuk membuka tabir kesadaran dari diri kita. Tidak mampu karena alasan tertentu sebelum kita melakukan dan mencoba yang terbaik atas kesempatan itu adalah sebuah penyakit kesadaran yang berbahaya. Apalagi jika kita sudah melakukan dan mencoba serta kita sudah melakukan dengan berhasil atas kesempatan yang akan membuktikan kapasitas terbaik kita, maka kesadaran akan hal ini yang harus kita tingkatkan. Bukan kita kurangi atau bahkan kita hilangkan.

Dalam kehidupan kita, akan banyak sekali hal hal yang akan menjadi alasan yang sangat rasional yang menutup kesadaran kita untuk menemukan dan meningkatkan kapasitas kita. Kapasitas ini yang akan menentukan hasil atau keberhasilan kita. Sering kali yang menghentikan orang – orang mencapai kapasitas mereka bukanlah kurangnya keinginan, melainkan kurangnya kesadaran.

Tetap semangat

BAHAGIA ITU JIKA BERMANFAAT BAGI ORANG LAIN

Tulisan ini termotivasi hasil dari diskusi saya bersama dengan beberapa rekan satu kelompok pengajian beberapa malam lalu. Kami berdiskusi mengalir di sebuah tempat yang bersahaja dengan buah rambutan, beberapa gorengan dan teh hangat. Topik yang kami bahas adalah tentang hakekat kebahagiaan menurut kami. Satu demi satu kami menyampaikan pendapat tentang hakekat kebahagiaan dan ketika tiba  giliran saya, saya menyampaikan sebuah hakekat kebahagiaan maka saya menyampaikan bahwa kebahagiaan bagi saya adalah ketika saya mampu memberikan manfaat kepada orang lain. Saya yakin anda juga akan sepakat dengan pendapat saya, tentunya dengan sudut pandang anda dan pengalaman anda, bahwa ketika kita mampu hadir di tengah tengah kebutuhan dan keterbasan orang lain dan kita mampu hadir di tengah tengah mereka dan mampu membantu mereka. Membantu kesulitan mereka. Ini adalah salah satu perspektif kebermanfaatan kepada orang lain. Kenapa saya mengatakan demikian, karena ada banyak kondisi dan cara yang menunjukkan kebermanfaatan kita kepada orang lain.

Di rumah kita dimintai bantuan anak kita untuk mendampingi belajar adalah manfaat. Tetangga yang datang kerumah untuk dibantu menjadi among tamu acara pernikahan putra putrinya juga manfaat. Memberikan tumpangan kepada pejalan kaki yang sejalan dengan arah perjalanan kita adalah manfaat. Memberikan bantuan terhadap korban bencana alam dan musibah lainnya adalah manfaat juga. Sore hari kita meluangkan waktu untuk mengajari anak anak membaca Al Quran juga manfaat. Kita menyisihkan sebagian rejeki kita untuk orang tua, saudara atau kerabat kita yang membutuhkan juga merupakan bentuk manfaat. Dalam cakupan yang lebih luas, jika ada seorang ketua RT yang berusaha membantu mengurus BPJS warganya agar mendapatkan perawatan di Rumah Sakit juga sebuah manfaat, demikian juga kepala desa, camat, bupati, gubernur dan pejabat publik lainnya yang membuat sebuah kebijakan kebijakan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya adalah sebuah tindakan yang memberikan manfaat. Bahkan dari jumlah orang yang akan merasakan dan mendapatkan manfaat dari amal atau tindakan kita, kita akan mendapatkan kesepakatan bahwa semakin tinggi jabatan seseorang, dengan semakin tinggi nya wewenang untuk memutuskan sesuatu, maka orang tersebut akan semakin memiliki potensi dan peluang untuk memberikan kemanfaatan kepada orang lain.

Demikian pula semakin banyak seseorang memiliki potensi, maka akan semakin memiliki potensi untuk memberikan manfaat kepada orang lain. Orang dengan harta yang lebih banyak, memiliki potensi yang lebih besar untuk memberikan amal sedekah membantu orang lain. Orang dengan ilmu pengetahuan yang lebih banyak, memiliki potensi yang lebih besar untuk memberikan pengetahuan kepada orang lain, untuk mencerdaskan orang lain. Termasuk tentunya orang yang memikiki jabatan yang lebih tinggi, akan memiliki potensi yang lebih besar untuk membantu orang lain. Bentuk dan cara memberikan kemanfaatan kepada orang lain ini sangat banyak, namun pada tulisan kali ini saya akan sharing tentang salah satu bentuk memberikan kemanfaatan kepada orang lain, dan hal ini menjadi salah satu hal yang paling membahagiakan pada diri saya. Dan tentunya orang – orang yang memiliki pandangan seperti saya, adalah ketika kita mampu membantu seseorang untuk menemukan dan meningkatkan kapasitas orang lain.

Salah satu dari remaja binaan pengajian saya suatu ketika mengirimkan pesan WA kepada saya menyampaikan “Ustad, terimakasih selama ini dengan sabar membimbing kami, khususnya saya pribadi. Saat ini saya lebih merasakan dan menemukan jati diri saya sebagai seorang pemuda, seorang anak, seorang hamba dan seorang manusia seutuhny. Dengan semangat untuk terus memperbaiki aqidah saya, ibadah saya, akhlak saya maupun manajemen diri saya yang lain. Jazakalloh Ustad” demikian bunyi WA nya. Saya dulu pernah berdiskusi dengan guru SD saya saat silaturahim waktu lebaran beberapa waktu lalu. Saya menanyakan kepada beliau “Bu, kenapa ibu masih saja terlihat sama seperti dulu ketika saya meninggalkan bangku Sekolah Dasar?” Jawabanya seperti dalam kaidah tulisan ini, “Karena saya mendapatkan kebahagiaan jika mengantarkan anak anak didik saya lulus, masuk ke Sekolah menengah pertama dan mereka lulus dari sana, kemudian mereka melanjutkan pendidikannya yang lebih tinggi dan akhirnya mereka berhasil menjadi manajer manajer sukses, mereka berhasil menjadi pengusaha pengusahan sukses dan menjadi tokoh tokoh masyarakat yang berhasil. Saya sangat senang dan bahagia”.

Kawans, salah satu kebermanfaatan kepada orang lain adalah ketika kita mampu membantu orang lain menemukan dan mengembangkan kapasitas mereka. Mereka yang telah menemukan kapasitas nya dan kemudian meningkatkan kapasitasnya maka mereka akan mampu bersaing dalam persaingan kesempatan untuk meraih berhasil. Mereka yang memiliki kapasitas yang semakin tinggi akan semakin kokoh dalam prinsip, semakin semangat dalam bekerja dan semakin bagus dalam meningkatkan kompetensi mereka. Mereka akan mencari dan menemukan level level keberhasilan mereka. Mereka akan membuat target dan sasaran dari hidup mereka, memperbaiki cara pandang mereka, mereka akan merencanakan langkah langkah dan cara terbaik untuk mencapai tujuan hidup mereka. Dan mereka akan bekerja keras dengan pantang menyerah untuk mewujudkannya. Kapasitas adalah kemampuan seseorang yang di barengi dengan sebuah pilihan pilihan dari masing masing individu untuk mencapai sebuah tujuan dengan penuh kesadaran.

Sehingga berbicara tentang kapasitas ini adalah berbicara tentang kemampuan, berbicara tentang sebuah pilihan hidup dan berbicara tentang kesadaran. Saya mengatakan bahwa jika kita mampu memberikan bantuan kepada orang lain untuk menemukan ketiga hal ini maka kita akan membantu orang untuk berjalan atau berlari secara mandiri mencapai tujuan hidupnya. Itulah yang saya alami dengan ucapan salah satu WA dari binaan saya. Itu juga yang Ibu guru SD saya alami dengan mengantarkan murid murid nya menuju gerbang kesuksesan. Betapa bahagianya melihat dan menyaksikan orang lain mencapai kesuksesan dan kebahagiaannya melalui sarana kita. Atau kita pernah bersama membantu mereka, sekalipun hanya memberikan inspirasi melalui sebuah tulisan, artikel maupun pelatihan dan diskusi maupun cara apapun. Mereka yang telah menemukan kapasitas hidupnya tersebut akan mengingat kita dalam doa doa terbaik mereka. Mereka akan menyampaikannya kepada istri dan anak anak mereka bahwa kita adalah menjadi bagian dari hidupnya. Mereka akan menyampaikan kepada dunia bahwa kita adalah bagian dari keberhasilan mereka.

Pada bulan Juni tahun lalu, saya di telpon salah satu karyawan yang pernah mengikuti pelatihan saya di Balikpapan. Beberapa kali telepon tidak terangkat akhirnya saya telepon balik. Masya Alloh, ternyata adalah Pak Suranto, pengawas operasional kami waktu kami memiliki proyek di Kutai Kertanegara Kaltim. “Pak Saudi, bagaimana kabarnya?, alhamdulillah kami semua sehat dan saya ingin menyampaikan terimakasih yang tak terhingga atas pelatihan yang dulu pernah bapak berikan kepada saya di Asrama haji Balikpapan. Saya tersadar atas perjalanan hidup saya dan saya mulai mengaturnya kembali. Istri dan anak anak saya juga sangat mendukung saya. Sekarang saya sudah memiliki beberapa alat loader, walaupun kecil kecil untuk di rentalkan. Saya dan istri saya alhamdulillah sudah mau hatam (menyelesaikan) baca Al Quran, bahkan saya diminta menjadi pengurus Takmir masjid di tempat saya. Terimakasih Pak Saudi”. Mendengar Pak Suranto menyampaikan demikian, maka laksana saya mendapatkan sebuah bonus kekayaan harta yang sangat besar. Sangat senang dan sangat bahagia mendengarnya membantu beliau menemukan dan meningkatkan kapasitasnya untuk mencapai tujuan hidup beliau.

Bagi saya, kebermanfaatan kepada orang lain adalah ketika membantu orang lain menemukan dan meningkatkan kapasitas dirinya. Bagaimana dengan anda ?

Tetap Semangat

Saya sudah memilih untuk melakukan sesuatu maka saya akan bertanggung jawab

Seseorang bisa gagal beberapa kali, tapi dia bukan seorang yang gagal sampai dia mulai menyalahkan orang lain.

Sebuah pelajaran tentang menjadi pribadi yang bertanggung jawab ini banyak sekali kita dapatkan seiring kita berinteraksi dengan orang lain. Ketika kita di rumah, interaksi dengan istri dan anak anak kita maupun ketika kita di kantor bertemu dengan rekan rekan sekerja kita maupun atasan kita, atau ketika kita hidup di tengah tengah masyarakat bertemu dengan tetangga atau pun sahabat dan geng ngopi kita. Saya akan berbicara tentang kaidah tanggung jawab adalah piilihan hidup kita. Untuk memahami nya mari kita simak beberapa ilustrasi dan contoh berikut ini. Saya pernah bertemu dengan seorang kawan yang mengeluh tentang motor Honda Vario nya. “Vario ini modelnya begitu begitu saja, kecepatannya juga masih kalah dengan motor Yamaha”. Kata dia. Saya mengatakan “Siapa dulu yang memilih Motor untuk anda? Diri anda se.Iri atau orang lain?” dia menjawab “ya saya sendiri sih pak”. Hehe, kan menjadi agak aneh, dia yang memilih motor nya dan dia pula yang mengeluh tentang motor itu. Suatu ketika ada seorang lelaki yang datang kepada abah saya di kampung Pati Jawa Tengah sana, pemuda ini mengatakan “Saya kok merasa ndak cocok dengan istri saya ya Bah, bla bla bla..” curhat sang pemuda kepada Abah saya. Abah saya juga sama pertanyaannya seperti yang saya tanyakan kepada rekan tentang motor diatas. “Lha dulu yang memilih dia menjadi istrimu siapa? Dirimu sendiri atau orang lain? Apa dipaksa orang lain?” dan pemuda tersebut akhirnya juga paham bahwa memang pilihan itu sudah ditentukan oleh dirinya sendiri. Setiap pilihan selalu ada konsekuensi yang harus kita tanggung. Dan inilah tanggung jawab. Bagaimana kita akan menjadi pribadi yang ringan dengan tanggung jawab tersebut ?. ilustrasi di bawah ini akan membantu anda.

Pernahkah anda merasakan sebuah kebosanan atau kejenuhan atau keengganan ketika pagi hari anda harus bangun awal, kemudian mandi, sarapan dan jam 06.30 wib anda harus sudah berangkat menuju ke kantor anda? Kenapa muncul kebosanan dan kejenuhan tersebut? Atau bahkan bisa muncul sebuah rasa malas untuk berangkat ke kantor dengan tepat waktu? Hal itu terjadi karena kita memberikan sebuah sikap terhadap aktivitas kita di pagi hari tersebut sebagai sebuah kewajiban yang harus kita lakukan. Sebagai sebuah tindakan yang mau tidak mau harus kita lakukan. Jika tidak kita lakukan maka kita akan mendapatkan sesuatu yang kurang dari orang lain. Akan mendapatkan penilaian yang kurang baik dari atasan di kantor kita. Akan mendapatkan penilaian yang tidak atau kurang disiplin dari rekan kerja kita atau dari bawahan kita. Yang menyebabkan kita menjadi berat, jenuh, bosan dan malas dengan rutinitas harian di pagi hari tersebut adalah karena kita menganggap berangkat pagi hari tersebut sebagai sebuah kewajiban. Sekarang mari anda coba tips sederhana dari saya. Setiap pagi ketika anda berangkat ke kantor untuk bekerja itu diubah yang semula anda mengatakan kepada diri anda sendiri bahwa “Aku harus pergi ke kantor..” anda ubah menjadi “Aku memilih pergi ke kantor…”. coba anda rasakan perbedaan mendasar dari dua pernyataan anda di atas. Jika anda mengatakan aku harus pergi ke kantor maka anda akan menyelesaikan sebuah beban. Yang suatu saat akan mengalami kejenuhan dan kebosanan tersebut. Namun jika anda mengatakan aku memilih pergi ke kantor, maka apa yang anda rasakan? Yang akan anda rasakan adalah perasaan senang, suka, tidak tertekan dan tidak terbebani. Kenapa karena memang anda telah memilih untuk pergi ke kantor di pagi hari tersebut. Ada pilihan pilihan lain atas tindakan yang bisa anda lakukan di pagi hari tersebut, namun anda lebih memilih bahwa anda akan pergi ke kantor. Termasuk ketika anda pernah merasakan seperti rekan saya tentang motor di atas tadi. Ketika anda sudah mengatakan “saya memilih motor vario ini untuk transportasi aktivitas saya” maka kita akan merasakan relatif lebih tenang dan menerima lebih kurangnya Vario kita.

Ini adalah kekuatan sikap memilih. Kalau ada sebagian orang yang mengatakan bahwa menjadi pribadi yang bertanggung jawab itu susah, maka dengan konsep dan kaidah yang sederhana ini, menjadi pribadi bertanggung jawab akan menjadi sangat mudah dan sangat ringan. Jadikan kalimat “saya memilih untuk……” menjadi caranya. Maka setiap tindakan yang anda lakukan, akan anda lakukan dengan penuh kesungguhan. Anda akan melibatkan semua potensi potensi positif anda untuk mewujudkan tindakan tersebut. Karena sudah menjadi pilihan anda. Izzuddin, anak saya yang pertama kelas 3 SD Baiturrahman Citra, pun sama. Suatu ketika berkata kepada saya, “Bi, aku malas berangkat TPA?” saya berkata kepada dia “Kenapa nak?”. “Aku tidak bisa mengimbangi temen temen aku yang sudah sampai jilid Iqro ke 5 atau sudah ke 6”. Katanya. Saya mengatakan kepada anak saya “Kenapa harus melihat temen temen mas Izzu, Ndak masalah mas Izzu sampai Iqro 3 atau 4 sedangkan temen temen mas sudah sampai Iqro 5 atau 6 karena mereka kan memang sudah mulai belajar lebih dulu, mereka kelas 5 dan kelas 6. Kalau Mas Izzu mau belajar lebih giat lagi pasti bisa mengejar mereka. Tapi itu pilihan mas Izzu. Kalau mas lebih memilih seperti sekarang ya Ndak papa juga. Tapi kalau mas mau mengejar temen temen mas ya harus mas buat pilihan, mau belajar lebih lama dan lebih giat atau tidak..” dan dia bisa menerima saran dari saya. Izzu sekarang lebih giat lagi dalam megikuti program di TPA dan dia belajar lebih giat dan lebih lama. Dia sudah memilih. Karena dia sudah memilih maka dia pelan pelan meninggalkan kemalasan dan keengganan untuk pergi ke TPA.

Sebenarnya kaidah pilihan ini setiap kita sudah mengetahuinya. Karena sejatinya kehidupan kita adalah pilihan demi pilihan. Dan kita yang memiliki hak sepenuhnya untuk memilih dan menentukan. Karenanya pilihan itu menjadi salah satu indikator kebebasan seseorang. Orang yang bebas atau orang yang merdeka adalah orang yang bebas menentukan, bebas memilih untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Setiap detik waktu kita dalam kehidupan ini atau selama kita hidup ini selalu terdapat pilihan demi pilihan yang tersedia untuk kita putuskan. Dan ketika kita sudah memilih dan memutuskan sebuah pilihan maka kita juga harus sadar dan mengetahui bahwa setiap pilihan pasti ada konsekuensinya. Selalu ada tanggung jawab yang harus kita pikul dengan pilihan – pilihan itu. Yang menjadi masalah adalah terkadang kita yang sudah menentukan, namun ketika terdapat konsekuensi yang harus kita tanggung, ketika ada akibat yang harus kita hadapi dari pilihan itu dan akibat tersebut tidak sesuai dengan keinginan kita, hal itu menyebabkan kita kecewa kepada diri kita. Atau bahkan kita kecewa kepada lingkungan. Padahal bukan lingkungan itu yang menentukan pilihan tersebut. Namun diri kita.

Karenanya, konsep pilihan ini kita jadikan dasar dalam kita akan menentukan sebuah pilihan yang akan memberikan tanggung jawab kepada kita. Ketika kita sudah memilih untuk masuk di sekolah favorit, maka kita harus siap dengan konsekuensi bahwa kita harus lebih giat belajar, lebih banyak mengerjakan tugas atau lebih banyak kegiatan untuk ekstra kurikuler kita. Karena kita sudah menentukan pilihan itu. Dan katakan pada diri anda “saya memang sudah memilih untuk masuk dio sekolah favorit ini, saya siap dengan konsekuensinya”. Ketika anda sudah memutuskan untuk menerima pekerjaan sebagai seorang staff marketing di sbeuah perusahaan jasa periklanan, maka konsekuensi nya anda harus lebih banyak jalan bertemu dengan calon cutomer anda, anda harus cepat beradaptasi dengan konsep dan model model periklanan yang selalu update dengan segala kecanggihannya. Itu adalah konsekuensi yang harus anda tanggung. Katakan kepada diri anda “saya sudah memilih untuk bergabung di perusahaan ini menjadi staff marketing, dan saya harus siap dengan konsekuensi tersebut”. Atau ketika anda berangkat Solat berjamaah ke Masjid, ketika suatu saat anda merasa berat melangkahkan kaki ke Masjid, katakan kepada diri anda “Aku memang memilih untuk Solat di Masjid dan aku akan meikmatinya”. Maka anda akan ringan melangkahkan kaki anda ke masjid. Dan seterusnya. Ketika anda sudah memutuskan sesuatu maka katakan pada diri anda, saya sudah memilih ini dan itu dan saya sudah siap dengan konsekuensi ini dan itu nya.”

Ketika konsep ini sudah kita miliki maka kita akan perlahan berubah menjadi pribadi yang berhasil dan bertanggung jawab. Menjadi pribadi yang berhasil karena setiap tindakan atas keputusan yang telah anda pilih anda lakukan dengan penuh kesadaran dan ringan hati untuk berindak dan hasilnya pasti akan jauh lebih baik dibandingkan dengan ketika anda bertindak karena dasar kewajiban atau beban. Dan akan menjadi pribadi yang bertanggung jawab karena setiap konsekuensi yang yang akan muncul dari tindakan anda, anda sudah siapkan diri anda. Sehingga anda akan bertanggung jawab apapun resiko dan konsekuensinya. Dan yang pasti anda tidak akan menangisi kembali masa lalu anda. Kenapa anda memilih itu. Karena pilihan itu sudah anda buat.

Pilihan kita akan menentukan pribadi berhasil dan bertanggung jawab.
The End
Tetap Semangat

Sungguh sungguh dan riang gembira akan membahagiakan kita

Dalam tulisan kali ini saya akan sharing tentang sebuah kaidah kehidupan yang sederhana. Yaitu tentang kemampuan diri kita untuk memanajemen diri kita sendiri agar selalu memilih bahagia dan bergembira dan bersungguh sungguh dalam setiap waktu kita. Perjalanan kehidupan kita pada dasarnya adalah pilihan demi pilihan setiap waktunya. Karena setiap waktu kita akan berhadapan dengan sebuah tindakan dan setiap tindakan ini selalu akan memiliki lebih dari satu pilihan. Selalu ada pilihan dari setiap tindakan yang akan kita lakukan. Atas pilihan pilihan tindakan atau keputusan dalam perjalanan kita tersebut tentunya ada dua kondisi yang menjadi hasilnya. Pertama adalah kondisi dimana hasilnya sesuai dengan yang kita harapkan dan yang kedua adalah kondisi yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Dua kondisi ini dapat kita sikapi juga dengan dua cara. Cara yang pertama adalah kita tetap mengambil sisi positif nya dengan tetap ketenangan dan kebahagiaan, dengan kegembiraan dan yang kedua adalah dengan kekecewaan, dengan penyesalan. Termasuk kondisi yang terjadi pada diri kita yang bukan akibat dari tindakan dan keputusan kita pun ada dua. Kondisi yang sesuai dengan keinginan kita dan kondisi yang tidak sesuai dengan keinginan kita.

Oke, sekarang mari coba kita evaluasi dan berhitung, dalam sehari rata rata kita memberikan sikap terhadap kondisi yang terjadi pada diri kita tersebut, lebih banyak yang bahagia atau lebih banyak yang kecewa ? Coba di jawab dengan jujur masing masing diri kita. Lebih banyak mana antara sikap kita yang bagagia dan bergembira atau dengan sikap kita yang kecewa. Selanjutnya dengan jujur, mari kita cari apa yang menjadi penyebab bahagia dan gembiranya dan apa yang menjadi penyebab kekecewaan kita. Terlepas dari penyebab penyebab bahagia dan gembiranya kita dan kecewanya kita, gembiran dan kecewa ini akan selalu datang silih berganti menghampiri kita. Dan kenyataannya kita tidak bisa melepaskan diri dari hal itu karena ini adalah hakekat dari kehidupan. Hakekat dari perjalanan kita.

Untuk kondisi yang sesuai dengan keinginan kita maka tentunya tidak masalah bagi kita. Kita akan senang bergembira, kita akan bahagia karena sesuai. Kita ingin agar semua situasi yang berada di sekeliling kita sesuai dengan keinginan kita. Bertemu dengan setiap orang yang memberikan sapaan hangat kepada kita, kita akan bahagia. Kita dipanggil oleh orang tua kita kemudian diberikan pujian atas sikap sikap kita yang baik. Di kantor kita di dipanggil oleh atasan kita dan diberikan pujian atas kinerja kita. Kita mendapatkan kenaikan gaji yang lebih baik dibandingkan dengan rekan kerja kita yang lain atau penghasilan dari usaha kita yang terus naik dan berkembang. Semuanya dalah kondisi kondisi yang sesuai dengan keinginan kita. Karena setiap manusia fitrahnya adalah seneng pada keberhasilan, seneng pada kesuksesan dan seneng pada sesuatu yang sesuai dengan keinginan kita. Kan aneh kalau sampai ada manusia yang tidak senang terhadap kesuksesan dan keberhasilan keberhasilan yang menghampiri kita. Tidak mungkin ada manusia yang justru senang pada kegagalan. Namun kenyataannya kegagalan kegagalan atau sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan kita ini yang menjadikan kegagalan dalam istilah kita, tidak bisa dipungkiri akan datang kepada kita juga. Karenanya manajemen kegagalan ini yang menjadi persoalan bagi kita dan menjadi konsen dari kaidah kita kali ini.

Selanjutnya yang lebih penting adalah bagaimana kita menyikapi rasa kecewa. Apa harus terus bersedih hati? Tentu tidak bukan? Kemampuan kita untuk menyikapi kekecewaan sangat bergantung kepada bagaimana kita memandang hidup ini. Hidup ini memerlukan kesungguhan, ketekunan, dan tanggung jawab. Tapi bukan berarti harus dijalani dengan kening berkerut, mulut terkatup, rona dingin dan kaku atau sikap murung. Sebaliknya justru karena hidup ini memerlukan kesungguhan, kita harus bersikap riang dan jangan terlalu ngoyo. Dan sekali lagi ini adalah pilihan kita, bagaimana kita bersikap. Jika dengan riang dan tidak terlalu ngoyo kita akan menghadapi ketidak sesuaian tersebut dan tentunya akan memberikan hasil selanjutnya yang lebih baik. Maka hendaknya kita akan mengambil sikap ini. Sikap riang merupakan senjata ampuh untuk melawan rasa sedih, dan bahkan keputusasaan. Dengan bersikap demikian kita akan mengerti bahwa hidup ini jauh lebih banyak mengandung kegembiraan melebihi yang kita sangka.

Apakah anda menganggap kesungguhan dan keriangan sebagai dua hal yang bertentangan? Mungkin kita perlu mengetahui bahwa kesungguhan tidak mesti dilukiskan sebagai orang yang tidak mau di ganggu karena sedang serius mengerjakan sesuatu. Begitu pula keriangan tidak mesti dilukiskan sebagai orang yang selalu main main, tidak pernah serius dalam segala hal. Tanggalkan pandangan seperti itu. Kesungguhan dan keriangan sesungguhnya tidak pernah bertentangan. Keduanya diikat dalam satu ikatan sebab akibat. Dalam banyak hal, keriangan (gembira) itu salah satunya dihasilkan oleh kesungguhan.

Hidup kita harus kita lalui dengan kesungguhan, atau dengan sungguh sungguh, penuh dengan ketekunan dan tanggung jawab. Kaidahnya kan sudah jelas, barang siapa bersungguh sungguh maka ia akan mendapatkan hasilnya. Sungguh sungguh ini adalah sikap kita dalam melakukan sesuatu sedangkan riang gembira adalah sikap kita setelah mengetahui hasil dari sesuatu proses yang telah kita lakukan. Namun dalam kaidah ini, riang gembira dapat kita lakukan sejalan dengan proses sungguh sungguh yang kita lakukan. Jika kita mampu mengkombinasikan dua sikap ini dalam satu waktu maka akan memberikan hasil yang luar biasa. Ingin buktinya ? Kita akan menyaksikan orang orang yang bekerja pada bidang yang menjadi passionnya maka mereka akan melakukan setiap pekerjaan nya dengan penuh kesungguhan dan keceriaan. Mereka akan memiliki tingkat kelelahan yang lebih sedikit dibandingkan dengan mereka yang bekerja yang tidak sesuai dengan passionnya.

Saya termasuk salah satu contohnya. Walaupun saya berasal dari latar belakang teknik elektro, namun saya sangat senang dengan dunia development, sehingga akhirnya saya berusaha untuk masuk pada dunia development ini dengan penuh kesungguhan dan kesenangan. Saya mengambil pasca sarjana pada konsentrasi Manajemen SDM dan menggeluti dunia develooment.  saya memiliki seorang rekan di Semarang yang sejak kuliah sarjana saya kenal sebagai artis Nasyid, sebuah seni suara islami. Saat berdiskusi dengan beliau, memang passion beliau berada di situ. Dunia Nasyid. Terakhir saya bertemu dengan beliau, beliau sudah memiliki studio musik Nasyid sendiri, memiliki beberapa usaha Event Organizer mulai dari pernikahan, acara institusi dan acara acara yang lain, aset perusahaanya sudah mencapai Milyaran rupiah. Dan bahkan sekarang sudah memiliki cafe yang tidak pernah putus pembeli untuk mencicipi kopi dalam cafe nya. Rekan saya tersebut mengamalkan kaidah ini. Karena passion nya adalah di dunia seni dan wirausaha maka beliau benar benar memiliki kekuatan untuk terus bertahan dan berkembang karena setiap waktunya diiringi dengan riang gembira. Bekerja dengan kesukaannya, bekerja dengan hobinya.

Bagaimana jika kita melakukan sebuah pejerjaan yang tetap tidak menemukan keriangan dalam proses nya? Maka saya menyampaikan untuk kasus ini akan ada dua kondisi. Kondisi yang pertama adalah kondisi yang mana ketidak riangan tersebut karena tidak sesuai dengan passionnya dan kondisi yang kedua adalah ketidak riangan tersebut karena belum menemukan passion nya. Ini adalah dua hal yang berbeda. Bagi anda yang dalam bekerja ternyata tidak sesuai dengan passion anda maka saya menyarankan anda harus menyesuaikan passion anda dengan pekerjaan anda atau anda harus beralih pekerjaan anda yang sesuai dengan passion anda. Kalau ternyata anda memang belum menemukan passion anda, maka saran saya adalah anda ikuti dan anda lalui proses anda dengan sungguh – sungguh dan cobalah untuk menyesuaikan bahwa memang ada passion anda dalam proses itu. Maka kondisi ini juga akan membantu anda untuk menyatukan kesungguhan proses anda dengan keriangan anda.

Prinsipnya adalah kesungguhan dalam berproses karena sungguh sungguh akan memberikan banyak sekali manfaat. Kita akan mendapatkan penghargaan jika kita bersungguh sungguh, misalnya gaji dinaikkan atau mendapat promosi jabatan. Bukankah penghargaan tersebut akan menyebabkan kita riang gembira? Demikian halnya dengan hobi. Tidak sedikit orang yang berhasil menjadi pengusaha sukses berkat kesungguhan mereka dalam menekuni hobi. Coba amati ini di lingkungan kita sendiri, pasti kita akan temui. Selain itu, dengan bersungguh sungguh dalam istirahat tubuh akan menjadi bugar dan sehat sehingga kita dapat melakukan semua rencana dengan lancar. Betapa sering terjadi peristiwa orang gagal dikarenakan sakit. Bukankah ucapan “Betapa senangnya jika saya sembuh”. Sering kita dengar dari bibir orang yang sedang sakit?

Demikianlah semakin kita menerapkan prinsip “kesungguhan” ini dalam segala hal, maka kita akan semakin mendapat banyak keriangan. Dengan kesungguhan ini dalam segala hal, maka kita akan semakin mendapat banyak keriangan. Dengan kesungguhan , penampilan kita pun akan menjadi cerah, sehat dan lebih mudah disukai orang lain.

Sungguh sungguh dan riang gembira adalah kunci kebahagiaan dalam hidup kita.

Tetap semangat,

Investasi terbaik adalah pendidikan

Apa yang ada di dalam benak pikiran anda jika saya berbicara tentang investasi?. Saya yakin hampir sebagian besar dari kita akan mengatakan bahwa investasi akan berbicara tentang saham, akan berbicara tentang tanah atau rumah atau property yang kita beli untuk masa depan kita. Atau asuransi untuk menjamin kesehatan diri kita dan keluarga kita di masa yang akan datang. Investasi akan lebih banyak dimaknai sebagai usaha dan cara kita untuk menadapatkan jaminan jaminan keuangan kita di masa mendatang dengan membeli benda atau barang berupa fisik. Bukan sesuatu yang salah jika investasi kita maknai demikian. Namun saya sampaikan kepada anda bahwa investasi terbaik yang dapat kita lakukan untuk masa depan kita adalah investasi untuk diri kita sendiri. Untuk diri kita, investasi terbaik nya adalah dengan pendidikan.

Kita harus menyamakan persepsi kita terlebih dahulu tentang pendidikan ini agar jangan sampai terjebak dengan pengertian yang kurang tepat atau pengertian yang sempit. Sebagian besar masyarakat memahami bahwa yang dimaksud dengan pendidikan adalah tolok ukur gelar pendidikan apa yang telah dia sandang, sarjana, master ataukah doktor bidang tertentu. Berapa lama dia kuliah atau menempuh pendidikan secara formal. Sebagian besar kita memiliki pemahanan demikian terhadap sebuah arti pendidikan. Coach Jaisy Muhammad dalam salah satu bukunya yang berjudul “Krisis ada dalam dirimu, inilah cara untuk melawannya” menyatakan bahwa Ralph J. Cordiner, pimpinan General Electric menjelaskan sikap terhadap pendidikan dari para manajemen puncak GE. “Dua dari presiden kami yang paling terkenal, Tuan Wilson dan Tuan Coffin, tidak pernah mempunyai kesempatan duduk di perguruan tinggi. Meskipun beberapa pegawai kami sekarang berhelar doktor.

Ijazah sarjana atau master atau doktor memang penting untuk mencari pekerjaan, mencari pekerjaan. Tapi untuk proses setelah bekerja dan bagaimana mereka mampu bersaing dalam pekerjaan tidak ditentukan kembali oleh selembar kertas itu. Namun ditentukan oleh kemampuan. Harusnya dan idealnya bahwa semakin tinggi gelar pendidikan seseorang akan semakin tinggi kemampuannya. Oke, kita kembali kepada esensi dari pendidikan ini. Pendidikan dalam arti luas sebenarnya adalah segala sesuatu usaha yang mampu mengembangkan dan memupuk pikiran kita. Seberapa baik pendidikan seseorang diukur oleh seberapa baik perkembangan pemikirannya. Dengan kata lain pendidikan itu berkaitan dengan seberapa baik dia berfikir.

Segala sesuatu yang memperbaiki kemampuan berfikir adalah pendidikan. Dan akhirnya dengan pengertian ini kita akan mendapatkan kesepakatan bahwa pendidikan dapat kita lakukan dan kita raih dengan banyak cara. Walaupun memang lagi lagi, kebanyakan masyarakat kita mengatakan bahwa pendidikan ini adalah ketika mereka mengembangkan pikiran di bangku sekolah atau bangku kuliah formal. Sedangkan mereka yang mencari dan meraihnya di luar sekolah atau kuliah dianggap tidak berpendidikan. Padahal esensi sudah jelas diatas, cara apapun yang dilakukan sehingga mengembangkan dan memperbaiki cara berfikir kita maka ini adalah sebuah pendidikan. Dalam sebuah ceramah saya pernah mendapatkan informasi bahwa di salah satu kabupaten di Kepulauan Riau, pada saat pelantikan Bupati dan Wakil Bupati daerah tersebut, pada saat memberikan sambukan, sang wakil bupati menyebut seseorang dengan sebutan sebagai guru dan dosen kehidupan beliau. Hampir semua hadirin yang hadir penasaran dengan orang tersebut. Dan ternyata pekerjaan orang tersebut hanyalah sebagai petani biasa dan pencari kayu di hutan. Namun mendapatkan sebutan sebagai seorang guru dan seorang dosen kehidupan bagi sang wakil bupati. Ternyata sang “Guru dan dosen kehidupan“ itu rutin setiap pekan sekali mengisi kajian yang di hadiri oleh warga dan salah satu yang selalu hadir adalah sang wakil bupati. Dan sang guru ini akhirnya mampu menjadi guru dan dosen tadi, karena juga mendapatkan pendidikan yang sama dari orang lain yan setiap pekan juga beliau ikuti. Itulah yang menjadikan pengetahuan dan cara berfikir dari sang petani yang menjadi guru dan dosen kehidupan wakil bupati menjadi lebih dan terus membesar. Terus membaik. Walaupun tidak menamatkan bangku SMP, namun petani ini tidak mau kalah jika seandainya diajak berdiskusi tentang bagaimana mengelola sebuah lingkungan masyarakat, cara mendidik anak, bagaimana mengelola sebuah usaha dan tentunya tidak mau kalah jika berbicara tentang perkembangan dan dinamika politik di Indonesia. Karena beliau sekolah, karena beliu mengikuti sebuah pendidikan yang akhirnya memperbaiki cara berfikirnya.

Bagi anda yang belum sempat mengenyam pendidikn tinggi secara formal, saat ini sangat banyak sekali tawaran tawaran pendidikan formal dengan konsep yang sangat memudahkan. Kuliah di akhir pekan baik untuk level sarjana, master atau bahkan untuk program doktoral. Tidak masalah, dan tetap memiiki sebuah nilai pendidikan karena ada peningkatan cara berfikir bagi kita. Harus ada peningkatan itu. Karenanya, ketika saya mengambil Kuliah S2 kelas Karyawan di Universitas Mercu Buana Jakarta, saya banyak bertemu dengan rekan rekan seangkatan dan mereka adalah orang – orang yang sudah berhasil di bidang nya masing – masing. Yang kuliah S2 mereka bukan hanya semata mata untuk meningkatkan pangkat atau grade mereka. Dari berbagai motivasi yang mereka sampaikan ketika mereka berdiskusi dengan saya, saya simpulkan bahwa mereka kuliah karena mereka berinvestasi untuk masa depan mereka, mereka berinvestasi untuk cara berfikir mereka. Mengembangkan dan membesarkan cara berfikir mereka.

Motivator dan Trainer dari Kubik Leadership, salah satu trainer favorit saya Bapak Jamil Azzaini sering sekali menyampaikan bahwa “investasilah leher ke atas” untuk menyambut masa depan anda menjadi lebih baik. Investasi leher keatas ini adalah investasi pengetahuan yang akan menjadi referensi referensi cara kita berfikir. Cara berfikir yang benar dan besar inilah yang akan menjadikan diri kita berhasil menghadapi masalah masalah kehidupan kita. Cara berfikir ini yang akan memunculkan dan usaha untuk mencari dan mengusakan ide ide perbaikan untuk kehidupan kita. Menganalisa situas, mencari peluang kerjasama dan langkah langkah atau cara cara yang kreatif untuk menjadi pemenang.

Jika kita sudah sepakat dan memahami bahwa investasi pendidikan ini adalah hal yang utama bagi keberhasilan kita di massa lima tahun atau sepuluh tahun mendatang, maka tidak seharusnya kita tidak segera merubah paradigma kita dalam berinvestasi. Jika kita mampu membeli property seharga 400 juta maka harusnya kita juga mampu dan mau membayar beberapa juta untuk seminar, workshop maupun training training untuk meningkatkan kapasitas diri kita. Untuk memperluas jaringan kita. Untuk menambah kesempatan keberhasilan kita. Jangan kita anggap bahwa investasi beberapa juta ini nanti tidak memberikan hasil. Hasilnya bisa jadi akan lebih besar dengan uang 400 juta yang sudah kita belikan property tersebut. Karenanya kesungguhan kita dalam berinvestasi ini harus dibuktikan dengan perjuangan dan atau pengorbanan kita. Sepekan sekali hadir rutin dalam kelas kuliah formal kita atau kuliah non formal kita bersama dengan ustad, atau kiyai kita, atau dengan beberapa juta untuk menghadiri training seminar maupun workshop workshop tersebut adalah bukti kesungguhan kita dalam berinvestasi.

Yang menjadi masalah sekarang adalah banyak anak anak kita, atau saudara saudara kita yang sudah diberikan kesempatan untuk menempuh pendidikan formal di bangku sekolah maupun kuliah ternyata salah dalam menerapkan tujuan mereka kuliah. Mereka kuliah tanpa ruh, mereka lupa bahwa esensi sekolah dan kuliah mereka untuk  pikiran mereka yang harus dikembangkan dan dibesarkan. Sehingga dengan demikian mereka kurang bisa mengatur strategi dan cara agar kuliah nya atau sekolahnya benar benar efektif untuk mengembangkan pola pikirnya. Bagi mereka yang salah dalam menetapkan tujuan kuliah, akan menyebabkan mereka menjadi tidak semangat dalam kuliah, kuliah hanya sebagai rutinitas harian, tidak berusaha mengembangkan ide, kreatifitas maupun jaringan jaringan masa depan mereka. Mereka terkadang malah melakukan dan mengisi waktu – waktu luang mereka dengan aktivitas yang sama sekali tidak mendukung tujuan pendidikan tersebut.

Kapan kita akan mulai berinvestasi terbaik ini?. Segeralah mengambil keputusan.

Tetap semangat

Selalu Update informasi tentang pekerjaan kepada atasan anda

Pada tulisan kali ini saya akan sharing tentang sebuah kaidah dalam dunia profesionalisme, dalam dunia kerja yang sangat sederhana namun menjadi sangat penting untuk di lakukan. Sebagai bahan renungan bagi anda yang saat ini sedang berprofesi sebagai seorang profesional, baik dengan jabatan sebagai unsur pimpinan maupun staff dalam sebuah perusahaan. Kaidah ini adalah Selalu lakukan update informasi kepada atasan anda atas apa yang akan, sedang dan telah anda lakukan. Atau telah anda putuskan. Apakah kaidah ini menjadi penting dalam dunia kerja. Sebelum saya menyampaikan penjelasannya, saya akan berikan pertanyaan dulu kepada anda dan tentunya anda harus menjawabnya dengan jujur.

Terkait dengan kaidah ini, apakah perlu kita selalu melakukan update atas apa yang akan, sedang dan telah kita lakukan kepada atasan kita, tolong dijawab beberapa pertanyaan saya berikut ini. Jika anda sebagai seorang atasan, lebih menyukai ketika anda memliki staff yang selalu update atas tugas maupun tanggung jawab mereka kepada anda atau lebih menyukai staff anda yang tidak memberikan update atas pekerjaan mereka kepada anda?. Atau pertanyaan yang lain, bagaimana pendapat anda jika ternyata suatu saat andan ditanya oleh atasan anda atas progress dari sebuah pekerjaan yang pekerjaan itu anda delegasikan kepada staff anda dan ternyata staff anda tidak memberikan update kepada anda?. Kita pasti akan sepakat bahwa kita akan lebih menyukai ketika anda memiliki seorang staff atau memiliki staff yang selalu update atas tugas tanggung jawab dan progress pekerjaan mereka kepada anda. Demikian juga, kita akan sepakat bahwa kita akan menyesal atas kondisi, dimana sebuah progress kerja yang seharusnya menjadi tanggung jawab kita namun karena dikerjakan oleh staff kita dan kita tidak mengetahui progress nya. Karena kita yang tidak menanyakan progress itu dan atau karena memang staff kita yang tidak memberikan update kepada anda.

Yang saya maksudkan dengan selalu dalam kaidah ini adalah ada sebuah budaya yang berjalan dalam tim kerja kita bahwa informasi atas laju pekerjaan yang menjadi bagian dari proses untuk mencapai tujuan atau target atau misi perusahaan baik dalam waktu mingguan, bulanan atau tahunan dapat dilakukan monitoring oleh orang orang yang memiliki tanggung jawab sesuai dengan levelnya. Maksudnya begini, dalam sebuah divisi dalam sebuah perusahaan memiliki struktur organisasi dipimpin oleh seoarang Division Head, membawahi beberapa orang manajer atau departemen head. Seorang departemen head pada departemen tertentu membawahi beberapa orang section head atau kepala seksi. Demikian juga seorang kepala seksi akan membawahi beberapa orang supervisor atau pengawas. Tanggung jawab divisi tersebut menjadi tanggung jawab Divison Headnya. Dan kemudian di turunkan menjadi tanggung jawab tanggung jawab dari para departemen headnya. Demikian seterusnya sampai ke bawah. Ketika ada sebuah tugas dan atau tanggung jawab yang menjadi area seorag manajer maka akan diturunkan ke beberapa orang section head dan section head juga bisa jadi akan menurunkan tanggung jawab dan atau tugas itu kepada supervisornya. Kaidah ini mengatakan bahwa seharusnya seorang supervisor selalu update kepada kepala seksi atau section head secara periodik atas apa yang akan, sedang dan telah dilakukan oleh sang supervisor. Dengan porsi informasi tertentu. Kemudian seorang section head akan memberikan informasi dengan porsi tertentu kepada manajernya atas pekerjaan yang menjadi tanggung jawab sang secton head yang di delegasikan kepada satu atau dua orang supervisornya. Demikian juga seterusnya, manajer memberikan update informasi dengan porsi tertentu kepada division headnya. Sehingga ketika seorang Divison Head ditanya tentang progress sebuah pekerjaan oleh Direktur maupun oleh customer maka sang divison head siap dengan jawabannya pada porsi informasi yang memang harus diketahui oleh sang division head.

Yang saya katakan dengan porsi dalam pembahasan di atas adalah bahwa sama sama update tentang sebuah progress pemenuhan orang dalam sebuah perusahaan. Seorang supervisor akan menyampaikan informasi pekerjaan kepada section headnya adalah berupa laporan dan rencana kerja dari proses rekrutmen yang akan dilakukan detil dengan tanggal jam tempat pelaksaannya. Kepanitiannya, detil anggarannya, persiapan persiapan teknis yang sudah dilakukan bahkan sampai kepada berapa jumlah alat tes yang akan di bawa. Namun seorang section head dalam memberikan update kepada manajernya adalah pada informasi laporan dan rencana berapa kali akan melakukan sebuah proses recruit sampai terpenuhi man power planning atau perencanaan pemenuhan karyawannya. Tidak detil sampai pada pelaksanaan teknis yang sudah dan akan dilakukan. Walaupun juga sah sah saja jika pada saat sang section head memberikan update informasi tersebut, sang manajer menanyakan beberapa hal teknis kepada section headnya. Demikian juga porsi informasi yang disampaikan oleh seorang manajer kepada Division Head nya. Sang manajer hanya akan memberikan informasi bahwa pemenuhan karyawan kita dalam proses rekrut dan akhir bulan ini sudah full fill, sudah terpenuhi semua. Persiapan, perencanaan dan pelaksanaan berjalan dengan lancar. Ini yang saya maksudkan dengan porsi porsi informasi yang sesuai dengan level jabatannya.

Namun hal mendasar dari kaidah ini sebenarnya adalan tertuju kepada masing – masing dari kita agar memahami kaidah ini dan melaksanakan kaidah ini dalam pekerjaan kita. Dalam keseharian kita. Bagi anda yang menempati jabatan manajer, maka selalulah update tentang apa yang akan, telah dan sedang anda dan tim anda lakukan kepada divison head anda. Atau bagi anda yang sekarang sebagai seorang kepala seksi, maka lakukanlah update tentang pekerjaan anda kepada manajer anda. Kaidah ini penting karena informasi yang update dan valid adalah referensi pengambilan keputusan atas langkah langkah selanjutnya dengan tepat dan cepat. Keputusan yang tepat dan cepat ini yang akan menjadi daya saing yang tinggi untuk tim anda. Saya sampaikan beberapa tips dan beberapa hal yang berkaitan dengan kaidah ini.

Pertama, Lakukan update minimal sekali dalam sehari, untuk pekerjaan reguler anda. Dan pada saat saat tertentu pada pekerjaan insidental. Bisa anda lakukan di pagi hari atau di sore hari. Saya membagi informasi yang akan anda update kepada atasan anda ini menjadi beberapa kategori. Untuk kategori pekerjaan yang telah anda lakukan maka anda sampaikan updatenya tentang bagaimana hasilnya, apa evaluasinya dan apa yang akan anda lakukan berikut analisa kemungkinan kemungkinan resikonya dan hal apa yang sudah siapkan untuk menghadapi atai menyelesaikan resiko yang akan muncul tersebut. Kemudian untuk kategori yang kedua adalah pekerjaan yang sedang berjalan, anda sampaikan informasi kepada atasan anda bahwa pekerjaan masih anda progress. Jika tidak ada kendala anda cukup sampaikan bahwa pekerjaan sesuai dengan perencanaan. Namun jika ada kendala maka anda sampaikan analisa dan kendalanya apa saja dan apa yang akan anda lakukan untuk menyelesaikan kendala tersebut. Jadi update disini bukan hanya dimaknai bahwa kita punya masalah dan kita tanyakan apa yang akan atasan kita lakukan untuk masalah tersebut. Bukan, namun update disini juga bermakna anda menyampaikan hal hal apa saja yang akan anda lakukan untuk memperbaiki masalah masalah yang muncul atas pekerjaan yang sedang berjalan tersebut. Selanjutnya untuk pekerjaan yang akan anda lakukan maka anda sampaikan mengapa anda melakukan pekerjaan tersebut, latar belakang nya secara singkat dan apa yang akan lakukan lengkap dengan analisa analisa kemungkinan resiko yang anda hadapi dan juga apa persiapan yang akan anda lakukan untuk menghadapi resiko yang akan muncul tersebut.

Kedua, pada saat kita melakukan update pekerjaan kita kepada atasan kita, usahakan ada suasana brainstorming yang anda dan atasan anda lakukan. Bagi anda yang menjadi seorang unsur pimpinan maka buatlah sebuah suasana diskusi antara anda dengan tim staff anda pada saat mereka update pekerjaan nya kepada anda. Ruang diskusi ini akan menjadi sebuah sarana yang menguatkan tim secara chemistry dan akan menjadi sarana pembelajaran atau coaching yang terbaik untuk tim anda. Tim anda akan mendapatkan sebuah inspirasi dari diskusi diskusi yang anda fasilitas. Bagi anda yang menjadi staff dalam melakukan proses update tersebut, maka yang anda lakukan adalah anda berusaha menyampaikan rencana rencana kerja yang akan anda lakukan dan mintalah pendapat dari atasan anda tentang hal hal yang akan anda lakukan. Jadi kita sudah menyiapkan rencana rencana kerja yang akan anda lakukan atas sebuah pekerjaan yang telah anda lakukan.

Ketiga, Dan jangan lupa agar setiap saat anda melakukan update pekerjaan tersebut anda membawa catatan. Karena dalam setiap update yang anda lakukan anda jadi akan mendapatkan sebuah instruksi atau inspirasi baru atau ada konsen konsen baru dari atasan anda yang akan menjadi tanggung jawab anda. Dengan membawa buku catatan atau alat tulis maka anda telah melakukan sebuah investasi yang baik terhadap jiwa profesionalisme ada.

Sesungguhnya kaidah bukan hanya berlaku pada pekerjaan pekerjaan pokok yang kita lakukan di kantor. Namun pada kegiatan atau aktivitas aktivitas kecil yang kita lakukan di kantor juga berlaku kaidah ini. Bahwa akan memberikan keuntungan terhadap sebuah informasi yang tepat dan cepat terhadap sesuatu topik. Misalnya jika anda akan meninggalkan kantor karena ada urusan pribadi yang akan anda lakukan dalam waktu lebih dari 3 jam meninggalkan kantor, misalnya, anda harus update kapada atasan anda. Anda akan pergi kemana untuk urusan apa. Kenapa, karena jika anda sebagai seorang manajer kemudian ada atasan anda seorang division head yang menanyakan keberadaan section head anda. Dan karena anda tidak mengetahui kepana dan dengan urusan apa section head anda meninggalkan kantor, maka anda akan mendapatkan sebuah penilaian kalau anda tidak mampu mengontrol staff anda. Demikian juga bagi anda yang meninggalkan kantor tanpa informasi tersebut, akan mendapatkan sebuah penilaian yang kurang bagus terhadap terhadap diri anda. Saya bahkan setiap kalu akan melakukan perjalanan dinas ke site atau proyek saya selalu update kepada General Manajer saya atau Division head saya dan biasanya saya cc kan kepad dua orang. Pertama adalah direktur saya yang menjadi atasan tidak langsung saya dan kepada tim saya.

Untuk departemen atau untuk pekerjaan pekerjaan tertentu yang merupakan atau mendekati sebuah proyek, maka update ini dilakukan bisa jadi intervalnya akan lebih lama. karena membutuhkan waktu yang lebih lama memang untuk penyelesaikannya. Manfaat nyata yang akan anda dapatkan jika anda melakukan kaidah ini adalah akan adanya sebuah kesempatan kepercayaan dari atasan langsung, atasan tidak langsung dan dari tim anda. Mereka akan mendapatkan sebuah cara kerja yang profesional dengan apa yang kita lakukan. Harusnya saat ini sudah tidak menjadi alasan kembali jika ternyata anda pada suatu waktu melakukan perjalanan dinas, kemudian anda lupa untuk mengupdate dinas anda kepada atasan anda, karena sekarang alat komunikasi saya katakan semua sudah memiliki. Gunakan SMS, WA media yang lain untuk mengabarkan bahwa anda hari ini sampai beberapa hari kedepan melakukan perjalanan ke site atau proyek.

Kalau ada pertanyaan, “Harusnya kan atasan saya tau apa yang telah saya lakukan..? tanpa harus saya mengupdate kepada beliau. Yup, saya katakan anda tidak salah. Idealnya memang demikian. Namun bagaimana atasan anda mengetahui jika anda tidak melakukan update nya kepada beliau. Dan kalaupun ada seorang atasan yang berusaha mencari tahu atas apa yang telah dan sedang anda kerjakan, pengetahuan atasan anda tentang apa yang sudah dan akan anda lakukan tidak selengkap ketika anda yang melakukan atau memberikan update tersebut. Sekali lagi kepentingan kaidah ini sebenarnya bukan untuk atasan anda maupun tim sejawat anda mapun kepada tim anda, namun manfaat terbesar dari kaidah ini adalah untuk anda. Ya untuk anda, untuk kita, bukan orang lain. Karena update informasi ini akan memberikan sebuah penilaian bahwa anda profesional, bahwa anda bertanggung jawab, bahwa anda komunikatif dan yang pasti anda adalah orang yang bisa dipercaya dengan hal yang sudah anda lakukan dengan memberikan update informasi ini.

Pertanyaan selanjutnya, kapan anda akan mulai melakukan dan memperbaiki hal sederhana ini?. Kapan anda akan menghadap atasan anda melakukan update pekerjaan anda?. Segera ambil smartphone anda dan segeralah memberikan informasi dan update tentang agenda dinas anda kepada atasan anda. Hehe. Mulai saat ini kita perbaiki, karena kita PROFESIONAL YANG DAPAT DIPERCAYA DAN DIANDALKAN,

Tetap Semangat

Buatlah target dan rencana kerja harian

Saya beberapa kali mendengar rekan kerja yang menceritakan tentang kejenuhan mereka dalam bekerja. Aktivitas sehari hari di kantor tidak lebih sebuah aktivitas rutinitas tanpa ruh kalau kata saya. Tanpa sebuah orientasi yang akhirnya tidak memberikan sebuah semangat dan kepuasan dalam menjalani hari itu. Padahal seharusnya kita tetap dan harus selalu menjadikan hari hari kita penuh dengan antusias dan kepuasan. Termasuk di dalam pekerjaan. Bagaimana kita mampu men-set-up persiapan dan perencanaan harian dalam pekerjaan kita, kemudian kita semaksimal mungkin mencapai setiap target yang sudah kita rencanakan. Wow, apakah harus begitu setiap hari?. Yess. Saya katakan harus. Kita harus membuat sebuah perencanaan dalam pekerjaan kita sehari – hari.

Terdapat beberapa manfaat yang akan kita dapatkan jika kita konsisten melakukan hal ini. Membuat perencanaan kerja setiap hari

Pertama, membuat pekerjaan kita menjadi lebih terarah. Perencanaan yang kita buat ini laksana sebuah tujuan yang akan kita capai dalam sebuah perjalanan. Sehingga bisa kita bayangkan jika seandainya kita akan melakukan sebuah perjalanan namun kita tidak mengetahui atau belum memiliki kejelasan mau kemana tujuan kita maka kita akan melakukan perjalanan yang sia sia. Tidak memiliki arah. List pekerjaan pekerjaan yang akan anda kerjakan di hari itu. Kemudian tetapkan targetnya. Beberapa rekan kerja saya mengatakan kepada saya, bukan list pekerjaan yang dituliskan namun target pekerjaannya sehingga lebih termotivasi. Bebas saja, yang pasti ada sebuah arah panduan atau tujuan dalam hari tersebut kita bekerja. Karena kita akan lebih memiliki arah untuk mencapainya.

Kedua, membuat pekerjaan hari itu lebih bersemangat. Lebih bergairah. Lebih jarang mengantuk dan menguap. Kenapa? Karena dengan kita memiliki sebuah perencanaan, akan cenderung memacu andrenalin kita untuk menyelesaikan target selanjutnya jika target sebuah pekerjaan telah berhasil kita lakukan. Jika kita tidak memiliki sebuah perencanaan dan target maka kita akan lebih mudah untuk menguap, mengantuk, bengong dan cenderung akhirnya menggunakan sisa sisa waktu dalam seharian bekerja dengan aktivitas yang kurang produktif. Namun jika kita telah menentukan sebuah perencanaan maka kita akan lebih maksimal dalam melakukan pekerjaan pekerjaan yang produktif.

Ketiga, melatih dan membiasakan diri kita menjadi pribadi yang efektif dan produktif. Sebenarnya bukan hanya produktif untuk hasil pekerjaan kita, yang akhirnya menjadikan tim kita menjadi tim yang produktif, namun lebih dari itu sebenarnya yang lebih utama adalah melatih diri kita menjadi pribadi yang efektif. Pribadi yang produktif. Kita tidak pernah akan menjumpai orang orang yang berhasil dan sukses dalam setiap bidangnya melainkan mereka orang orang yang efektif dan produktif dalam bidangnya. Orang efektif dan produktif ini saya ibaratkan dengan dua orang yang sama sama memiliki sumber daya yang sama, waktu dan modal yang sama. Namun orang yang satu bisa menghasilkan hasil yang lebih banyak dibandingkan dengan yang lain. Kenapa lebih banyak hasilnya? Karena dia lebih efektif dan produktif. Salah satu cara untuk menjadikan diri kita menjadi pribadi yang efektif dan produktif adalah dengan merencanakan setiap pekerjaan kita.

Keempat, perencanaan kerja akan menjadi sebuah bukti professional nya kita. Kita bekerja akan berinteraksi dengan rekan, atasan atau bahkan bawahana kita. Mereka yang melihat cara kerja kita akan merekan apa yang kita lakukan, sebelum, ketika atau setelah kita melakukan pekerjaan. Lha kalau diri kita menjadi pribadi yang selalu membuat sebuah perencanaan dalam setiap pekerjaan kita dalam keseharian kita maka orang orang yang berinteraksi dan bekerjasama dengan kita mereka akan menjadi saksi saksi hidup, mereka akan memberikan keterangan dan menegaskan bahwa kita adalah pribadi profesional. Indikator profesional ini juta meliputi bagaimana dengan membuat sebuah perencanaan dalam pekerjaan akan menunjukkan bahwa kita mengetahui dan menguasai pekerjaan, tugas, tanggung jawab kita. Memiliki ketrampilan untuk melakukannya dan tentunya sebuah motivasi dengan semangat untuk menuliskan perencanaan perencanaan kerja ini.

Keempat manfaat kita merencanakan pekerjaan dalam keseharian ini akan memberikan keuntungan bagi kita bukan hanya untuk saat ini namun juga untuk masa yang akan datang. Sekarang pertanyaanya bagaimana cara dan tips tips kita untuk merencanakan pekerjaan harian. Saya akan membagikan pengalaman saya kepada anda semua. Beberapa cara yang dapat anda lakukan dalam melakukan perencanaan kerja harian sebagai berikut :

Pertama, Lakukan perencanaan kerja sebelum jam kantor anda dimulai. Anda bisa memulainya malam hari sebelum anda tidur. Buku harian, kertas catatan atau smartphone anda bisa menjadi alat yang membantu anda untuk menulis dan mengingatnya. Pekerjaan pekerjaan atau target – target pokok yang akan anda lakukan esok hari sudah anda mulai malam harinya. Kemudian didetilkan dan ditambahkan 10 menit sebelum anda mulai pekerjaan. Jika jam kantor anda jam 08.00 WIB misalnya, anda dapat mulai mendetilkan dan melengkapi rencana kerja harian anda pada pukul 07.50 WIB. Dan tentunya anda tidak boleh datang ke kantor terlambat ya.

Kedua, buatlah kategori kategori pekerjaan anda. Saya biasa membagi jenis pekerjaan saya dengan beberapa kategori yaitu Pekerjaan kantor yang meliputi Organization Development section, Recruitment section dan training development section. Section section ini adalah section yang berada di departemen HRD, departemen yang menjadi tanggung jawab saya. Anda bisa membagi ketegori pekerjaan dalam perencanaan kerja harian anda sesuai dengan area tanggung jawab anda. Yang kedua adalah pekerjaan pribadi. Pekerjaan pribadi juga penting untuk kita tuliskan. Selain pekerjaan pekerjaan pribadi ini bisa menjadi supporting dalam pekerjaan kantor yang menjadi pekerjaan utama anda di hari itu, pekerjaan pribadi ini akan menjadi sarana refresh otak dan pikiran kita jika kita jenuh dengan target target dan dinamika dalam pekerjaan. Misalnya pekerjaan dan target pribadi anda untuk mengkonfirmasi tim anda dengan rencana akhir pekan untuk naik gunung bersama, atau anda harus membayar atau mencicil hutang anda kepada salah satu rekan kantor anda. Setelah anda membagi jenis pekerjaan pekerjaan anda, anda dapat membaginya kembali dalam empat kategori skala prioritas. Anda dapat menentukan mana mana saja pekerjaan yang masuk dalam kategoru penting dan mendesak, penting namun tidak mendesak, tidak mendesak namun penting dan yang terakhir adalah tidak penting dan tidak mendesak. Kategori ini juga menjadi penting karena waktu yang kita miliki dalam sehari kita bekerja terbatas. Rata rata 7 sampai 8 jam saja kita bekerja di kantor dalam sehari. Dan kalau kita lembur maka bisa menambah jam kantor kita menjadi 9 atau 10 jam. Dan jumlah ini dengan pekerjaan pekerjaan kita terkadang tidak cukup untuk menyelesaikan semua perencanaan kerja kita di hari tersebut.

Ketiga, komunikasikan rencana kerja anda kepada tim anda. Jika anda menjadi unsur pimpinan yang memiliki anak buah, maka anda dapat menurunkan tanggung jawab anda menjadi tugas tugas yang dilakukan oleh anak buah anda. Anda akan membagi tanggung jawab anda dengan kemampuan delegasi anda dan pengelolaan tim serta pekerjaan anda. Bagi anda yang menjadi bagian dari satu tim anda dapat menyampaikan perencanaan anda kepada atasan dan rekan kerja anda. Dan jika anda membutuhkan support tertenti dari atasan atau tim anda, anda dapat menyampaikannya di forum brifing pagi tersebut. Ya, gunakan brifing pagi sebagai media untuk sharing rencana pekerjaan anda. Konsistenlah dengan program ini, karena program ini akan menjadi sarana yang semakin efektif menjadikan tim yang semakin produktif.

Keempat, lakukan evaluasi singkat atas rencana kerja yang sudah anda buat hari sebelumnya dan sudah anda progress atau sudah anda kerjakan hari sebelumnya. Secara pribadi anda dapat menuliskan rencana kerja harian dengan menuliskan kembali beberapa pekerjaan dan target target hari sebelumnya yang belum tuntas. Dan anda akan menambahkan beberapa pekerjaan yang akan anda lakukan hari ini yang merupakan kelanjutan dari target pekerjaan sebelumnya atau memang sebuah pekerjaan yang baru. Secara tim, jadikan sebuah agenda dalam program brifing pagi anda. Jadi brifing pagi akan sangat efektif dengan waktu 10 sd 20 menit bagi tim anda dengan agenda evaluasi pekerjaan pekerjaan yang direncanakan dan di targetkan hari sebelumnya ditambahkan dengan pekerjaan pekerjaan dan atau target yang akan dilakukan di hari ini.

Kelima, terakhir, buat sebuah mekanisme untuk saling memberikan peringatan dan reward dalam satu tim. Ini akan semakin membuat gairah kerja dan semangat kerja yang terus meningkat. Misalnya jika dalam satu pekan terakhir semua perencaan kerja yang anda dan tim anda buat tercapat maka rayakanlah keberhasilan tersebut. Walaupun tidak harus mahal. Makan siang bersama dengan tim anda, walaupun juga tidak selamanya anda yang mentraktir tim anda. Hehe, masing masing membayar sendiri namun kebersamaan tersebut adalah bagian dari perayaan atas produktivitas tim anda yang berhasil menyelesaikan target target pekerjaan dalam pekan tersebut. Bahkan beberapa rekan kerja di departemen lain, memiliki cara yang unik, mereka membagi tim dengan tugas membawa nasi, ada yang mambawa sayuran, ada yang membawa lauk pauknya, ada yang membawa minumannya kemudian pada saat jam makan siang sudah tiba maka mereka merayakan keberhasilan tim mereka dengan makan rame rame dari bahan bahan yang sudah dibawa oleh masing – masing tim tersebut. Termasuk mekanisme ini nanti yang bisa jadi akan menjadi satu proses yang mengharuskan kita merencanakan pekerjaan tertentu. Jika anda melaporkan atau update evaluasi dari pekerjaan anda kepada atasan dan kemudian atasan anda memberikan sebuah inspirasi atau perintah atau arahan kerja, maka hal tersebut harus menjadi sebuah daftar perencanaan kerja yang harus anda follow up. Dan kategorinya penting mendesak.

Oke, demikian sharing saya kali ini tentang membuat perencanaan kerja dan atau target kerja harian untuk anda. Sukses selalu dan tetap Semangat.

Kostum kita akan meneguhkan siapa kita

Kali ini saya akan menulis tentang sebuah kaidah yang sebenarnya sejak dari kecil sudah berlaku kepada kita atau berlaku bagi anak anak kita yang ternyata memberikan sebuah pelajaran berharga bagi kita. Bahwa salah satu cara untuk membantu menjadikan percaya diri menjadi seorang pribadi dengan karakter tertentu atau untuk meneguhkan karakter tertentu kita, bisa kita lakukan dengan bagaimana kita menggunakan dan memakai pakaian sesuai dengan karakter pribadi tertentu tersebut. Oke, saya berikan contohnya, suatu ketika anak kami, Izzuddin minta kami antar ke sebuah toko baju. Dia minta dibelikan baju spiderman, waktu itu sedang ramai sekali film spiderman, ditambah lagi di sekolah dia bertemu dengan kawan kawan nya yang menirukan gaya gaya spiderman dalam bermain. Bahkan pada waktu yang sama saya mendengar sebuah berita, terdapat seorang anak kecil yang terjatuh dari lantai 15 sebuah apartemen di jakarta, setelah diselidiki, ternyata sang anak ingin menirukan gaya spiderman, sang idola dengan melompat dari atas balkon lantai 15 ke bawah. Dengan pengawasan yang kurang akhirnya anak tersebut meninggal di tempat. Kembali kepada anak saya, sampai di toko tersebut ternyata baju yang dimaksud tidak ada. Kami tidak menemukan baju tersebut. Kemudian mencari beberapa toko baju di lokasi yang sama dan hasilnya pun nihil. Baju spiderman yang dimaksud tidak ada. Sepertinya memang menjadi kostum yang virl kalau istilah saat ini.

Saya mencoba berdiskusi dengan Izzuddin, “Nak, karena kostum spiderman nya tidak ada, bagaimana kalau abi ganti belikan baju yang lain yang sama bagusnya?”. Saya mencoba membujuk Izzuddin. Dan ternyata jawaban anak kami “Ndak bisa Bi, harus spidderman, bagaimana aku bisa menjadi spiderman kalau ndak memakai baju spiderman?”. Izzuddin tidak bisa menjadi spiderman ketika tidak memakai kostum spiderman. Kalimat ini ternyata sebuah kaidah yang luar biasa yang harusnya bisa kita jadikan referensi bagi kita. Bahwa untuk memiliki karakter tertentu kita harus didukung dengan sikap tertentu. Dan sikap ini salah satunya di tunjukkan dengan baju atau seragam apa yang kita pakai. Izzuddin akan memiliki semangat dengan menunjukkan karakter spiderman ketika dia memakai kostum spiderman. Dia tidak bisa menjadi spiderman ketika dia memakai kostum Batman atau Superman. Atau kostum Bumblebee, karakter favorit abinya, hehe. Jika kita ingin menjadi pribadi yang hebat, maka kostum yang kita pakai adalah kostum yang mendukung agar kita menjadi pribadi yang hebat tersebut. Apakah hanya dengan memakai kostum atau baju sesuai dengan karakter tertentu ini kita secara langsung memiliki karakter sesuai dengan kostum tersbut, tentunya tidak. Karenanya diatas saya sampaikan bahwa memakai kostum atau baju dengan karakter tertentu ini menjadi salah satu cara agar kita memiliki karakter tertentu. Sikap yang lainnya adalah, bagaimana cara kita berfikir, bagaimana cara kita bersikap, bagaimana kita berbicara, bagaimana ketika kita berinteraksi dengan orang lain, bagaimana ketika kita berinteraksi dengan kegagalan, dengan keberhasilan dan lainnya. Sikap sikap ini yang akan membentuk diri kita menjadi pribadi yang kita inginkan.

Namun dengan baju yang kita kenakan pun menjadi salah satu cara meneguhkan sikap kita. Kita akan menjadi dan akan mencerminkan pribadi seperti apa yang kita inginkan. Saya juga teringat pada tahun 2005 dan 2009, saya pernah mengikuti training motivasi yang diberikan oleh Resa M Syarif, sebuah pelatihan yang bagus menurut saya saat itu. Termasuk menjadi salah satu trainer favorit saya. Namuan ada yang membedakan dari penampilan Gus Resa, panggilan beliau saat ini. Pada tahun 2005 beliau mengenakan kostum layaknya seorang motivator prpfesional. Dengan jas, dasi, kemeja dan tentunya sepatu yang mengkilap. Namun pada tahun 2009 dan sampai saat ini saya melihat profil profil beliau ketika memberikan sebuah training, ternyata penampilan beliau berbeda dan berubah dari tahun 2005. Tahun 2009 saya bertemu dengan beliau dengan memakai gamis yang panjang berwarna putih, lengkap dengan kpiah putih dan surban yang mengelilingi kopiah tersebut. Walau kaca mata hitamnya tetap melekat setiap kali beliau melakukan perjalanan. Saya suatu saat berdiskusi dengan beliau, “Gus, kenapa kostumnya sekarang berbeda dengan 4 yahun yang lalu?”. Beliau mengatakan “Saya ingin merubah diri saya menjadi orang yang bertaqwa kepada Alloh SWT, saya ingin membuat sebuah sistem imun dan penguatan agar saya menjadi seorang muslim yang bertaqwa, salah satunya dengan saya menggunakan baju ini. Dengan baju seperti ini, rasanya seorang resa akan mikir beribu kali untuk berbicara tentang keburukan orang lain, akan mikir seribu kali memfitnah orang atau mengeluarkan kata kata yang kotor. Akan banyak orang yang mengenal Resa sebagai orang yang berusaha belajar memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih taqwa. Semakin banyak orang yang mengetahui, maka akan semakin banyak orang yang akan menjadi sistem penguat dan pengingat agar resa selalu menjadi pribadi yang taqwa tersebut”.

Tepat sekali jawaban Gus Resa tersebut dengan kaidah ini. Sekarang mari kita lakukan instropeksi diri kita masing – masing. Sudahkan kostum atau baju yang kita pakai sesuai dengan harapan ingin menjadi apakah diri kita. Jika kita ingin menjadi pribadi yang profesional, sudahkan baju yang kita kenakan sebagaimana seorang profesional mengenakan kostum. Sudahkan sepatu, celana, baju, jam tangan dan dasi yang kita pakai mendukung bahwa kita menjadi pribadi yang progfesional tersebut. Atau jika kita menginginkan, pada suatu momen tertentu kita ingin menjadi seorang santri atau guru ngaji atau pembicara yang mengisi tausiyah sudah kita sesuaikan kostum atau baju yang kita kenakan. Dulu saya juga ingat, waktu kecil ketika akan menghadiri sebuah pengajian, abah dan emak selalu mengingatkan dan memastikan agar anak nya memakai baju koko atau baju taqwa tentunya lengkap dengan kopiah kecil yang kita kenakan. Sebenarnya selain untuk menghargai diri saya sendiri dalam majelis terssebut, lebih dari itu akan memberikan sebuah kepercayaan diri dan keyakinan untuk menerima materi dalam pengajian itu dengan lebih baik. Kostum kita akan mendukung kita akan menjadi dan mendapatkan apa. Saya yakin bahwa anda sepakat dengan kaidah ini. Karenanya, jika anda menginginkan menjadi seorang pengusaha yang profesional, cobalah di ubah cara anda berpakaian. Cari dan pakailah pakaian yang terbaik, bahkan jika perlu anda investasikan sejumlah uang untuk membeli jas, kemeja dan celana serta sepatu terbaik untuk mendukung karakter yang akan anda bangun dengan investasi terbaik. Untuk membeli kostum terbaik tersebut. Karena kenyataanya memang demikian.

Saya ketika ingin tampil menjadi seorang pelatih dalam sebuah pelatihan lapangan dengan gaya trainer luar lapangan, bahkan ketika hari tertentu dikantor dimana saya harus memakai kostum kasual, maka saya mengenakan celana taktikal, ikat pinggang lapangan, sepatu semi boot warna hitam, tentunya baju yang saya kenakan juga baju lapangan atau baju trainer. Dengan casing smartphone yang terpasang di samping badan pada ikat pinggang saya. Karena memang saya ingin memiliki karakter sebagai pelatih pelatihan luar ruangan. Saya akan mendapatkan spirit sebagai trainer luar ruangan tersebut. Pelatih pembinaan karakter. Sedangkan jika saya ingin tampil menjadi seorang manajer HRD ketika berada di kantor dengan aktivitas profesional dengan kolega dan manajemen serta unsur pimpinan perusahaan maka seragam atau kostum yang saya akan gunakan adalah seragam rapih dengan sepatu pantofel kantor tersemir hitam mengkilat. Celana dan baju merk Jobb, ikat pinggang yang elegan serta jam tangan yang saya sesuaikan dengan tema baju tersebut. Demikian juga ketika saya akan mengisi sebuah kajian islami, maka saya pun akan menyesuaikan dengan baju sebagai seorang santri atau sebagai seorang ustad, lengkap dengan kopiah putih saya. Karena pasti ada pengaruh terhadap suasana jiwa dan karakter yang akan terbentuk dengan baju yang kita kenakan.

Jika kita ingin menjadi pribadi yang terbaik maka jangan sampai kita biarkan diri kita menjadi pribadi kelas dua atau kelas tiga dengan mengenakan baju kelas dua atau kelas tiga.
Tetap semangat

Sikap yang salah terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan kita, tidak memberikan keuntungan bagi kita

Kali ini saya masih menulis tentang pengaruh dan kekuatan sikap kita terhadap apapun situasi yang berada di sekitar kita. Ketika kita berinteraksi dengan orang lain atau dalam suatu organisasi yang kita tempati, dalam perusahaan tempat kita bekerja misalnya, kaidah ini masih akan berlaku. Dan masih sangat relevan terjadi. Kaidah ini bukan teori semata, namun ini sudah terbukti, dan saya yakin bahwa kita pernah melakukannya. Bahwa sikap kita terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan kita tidak akan memberikan keuntungan bagi kita. Saya akan memberikan sebuah pengalaman saya, bagaimana kaidah ini bekerja. Sebagai seorang manajer HRD, salah satu aktivitas yang saya lakukan adalah menjadi pewawancara calon karyawan bagi perusahaan kami PT. Ricobana Abadi. Dari beberapa kali wawancara yang saya lakukan terdapat pengalaman yang menjadi bukti kaidah ini bekerja.

Suatu ketika, seorang kandidat operator alat berat menuju ke meja di depan saya. “Siapa nama Anda?” saya mengawali sesi wawancara tersebut. “Saya Hendro Pak Saudi”. Ternyata dia sudah mengenal saya. Beliau tahun 2009 pernah bertemu dengan saya saat mengikuti Kursus Pembinaan Mental PT. Pa******. “Anda melamar posisi apa saat ini dan punya pengalaman dimana saja?” saya melanjutkan pertanyaan kepada nya. Hendro ini merupakan operator yang memiliki pengalaman kerja cukup mumpuni. Sesi wawancara pun berjalan dengan baik. Beberapa pertanyaan saya tentang metode teknik pengoperasian unit yang saya berikan, mampu dijawab dengan baik. Pertanyaan seputar power train atau rangkaian penggerak tenaga, instumen panel, safety operasi dan P2H pun bisa di jelaskan dengan baik oleh beliau. Sampai saya pada pertanyaan “kenapa dalam tempo 8 tahun ini anda sering kali pindah pindah kerja dan kenapa sekarang ingin bergabung di PT. Ricobana Abadi?”. Ketika saya memberikan pertanyaan ini, beliau terlihat diam beberapa saat dan menarik nafas dalam.

“Saya salah ternyata selama ini Pak. Ternyata pindah pindah kerja tidak memberikan keuntungan apapun. Karena kenyataannya saya sampai saat ini juga masih menjadi operator. Dan bahkan sekarang pun saya melamar di perusahaan tempat Bapak bekerja juga masih sebagai operator. Teman teman saya seangkatan fresh operator dulu di Pama, sudah banyak yang menjadi pengawas, bahkan beberapa diantaranya sudah menjadi supervisor. Saya menyesal pak dan saya akan komitkan kembali untuk memulai dari awal kembali. Semoga saya bisa bergabung bersama dengan bapak”. Kemudian saya menyampaikan beberapa hal kepada beliau. “sebenarnya tidak menjadi masalah soal mau pindah kerja berapa kali dalam beberapa tahun, karena masing – masing orang memiliki alasan untuk itu. Namun alasan inilah yang menentukan apakah pindah pindah perusahaannya itu menjadi benar atau tidak, menjadi baik atau tidak dan menjadi perlu atau tidak. Alasan ini adalah niat atu motivasinya pindah seperti apa. Kebanyakan dari kawan kawan operator selama saya wawancara dalam proses recruitmen operator ini, alasan mereka pindah kerja adalah karena sebuh alasan yang tidak tepat. Sehingga pindahnya mereka ke perusahaan yang lain itu tidak benar. Resign nya mereka dari perusahaan sebelumnya akhirnya menjadi tidak benar. Dan jika hal itu terjadi, maka dia telah mengawali bekerja di tempat yang baru dengan niat yang tidak benar. Jika hal itu tidak dilakukan perubahan pada dirinya maka hal yang sama akan berlaku kembali di perusahaan atau di tempat yang baru. Itulah akhirnya yang menyebabkan akhirnya operator sering pindah perusahaan dan keluar masuk perusahaan.”

Saya bertanya kepada beliau tentang alasan mengapa dulu resign dari PT. Pa********, beliau mengatakan bahwa saat itu dia merasa kecewa dengan ketidak adilan yang beliau rasakan tentang kenaikan grade operator di PT. Pa********. Kenapa rekan seangkatannya sudah bisa naik grade sedangkan dia belum bisa naik grade. “Saya merasa di perlakukan tidak adil Pak, sepertinya karena faktior kedekatan operator dengan pengawas yang banyak dijadikan dasar seorang operator naik grade”. Saya katakan kepada beliau “Seberapa anda yakin dan apakah memang seperti itukah kebenarannya?. Saya rasa tidak demikian. Ada beberapa alasan yang bisa saya sampaikan kepada anda. Pertama, Pama perusahaan yang besar dengan sistem yang sudah cukup stabil, termasuk dalam hal penentuan kenaikan grade operator ini. Jikapun dalam pelaksanaannya terdapat hal hal yang menyimpang, saya yakin tidak sampai pada sebuah kesimpulan bahwa naik tidak nya grade seorang operator itu karena kaftor kedekatan semata. Pasti ada alasan mengapa anda menjadi salah satu dari operator yang tidak naik grade tersebut. Kedua, justru kalau menurut saya, karena sikap anda yang seperti itu lah yang menjadikan sesuatu yang normal berlaku menjadi tidak normal berlaku dan menjadi semakin buruk menurut pandangan anda. Berbicara tentang orang yang pindah pindah perusahaan karena cara pandang mereka yang salah akan memberikan kerugian bagi dirinya. Mereka jika tidak mengubah cara pandang mereka terhadap sesuatu yang tidak mereka sukai karena tidak sesuai dengan keinginan mereka itu, akan terus terbawa pada tempat yang baru nanti, dan akan terjadi kejadian yang sama. Ketidak sukaan pada apa yang mereka lihat. Bukan pada apa yang sebenarnya salah dengan diri mereka”.

Terlihat wajah beliau menyetujui nasehat nasehat dari saya. Saya melanjutkan, “Bekerja di manapun kita berada, di perusahaan manapun pasti akan bertemu kondisi dan situasi yang sama seperti yang anda alami. Sesuatu yang tidak sesuai dengan keingingan kita. Tidak sesuai dengan harapan kita. Memang banyak di antara kita dalam mensikapi ketidak sesuaian itu yang menentukan apakah menjadi masalah atau tidak. Bukan pada apa yang tidak sesuai tadi. Namun sikap kita terhadap sesuatu tersebut. Rekan rekan seangkatan kita tentunya yang memiliki sikap yang positif akan melewati proses dengan baik dan mendapatkan masa kerja yang terus bertambah dengan tetap bertahan di perusahaan yang sebelumnya. Karir yang semakin baik pastinya. Sedangkan kita yang suka gonta ganti perusahaan atau pekerjaan karena salah sikap kita dalam mensikapi situasi tersebut masa kerjanya selalu ter reset, dimulai lagi dari awal. Karir yang tidak bergerak naik. Sikap kita yang benar terhadap situasi yang tidak sesuai dengan keinginan kita akan memberikan keuntungan bagi kita. Sedangkan sikap yang salah, sama sekali tidak akan memberikan keuntungan bagi kita.”

“Benar sekali pak Saudi, selama ini saya memiliki sikap itu. Sikap yang salah dalam mensikapi sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Salah satu contohnya juga yang baru saya alami 5 bulan yang lalu ketika saya memutuskan resign dari perusahaan terakhir saya bekerja. Saya resign gara gara saya merasa kecewa juga dengan manajemen. Karena saya mendapatkan kabar dari rekan rekan operator kalau gaji Office Boy di kantor lebih besar dari operator yang bekerja di lapangan. Kami semua resah, kami semua protes kepada pengawas. Beberapa kali kami di sampaikan oleh pengawas bahwa tidak benar isu isu tersebut. Fokus saja dengan pekerjaan kami, manajemen memiliki sistem dan mekanisme tersendiri. Namun kami tetap saja tidak percaya, diskusi kami memanas saat supervisor kami menyampaikan kepada kami, mau kami apa sebenarnya. Beberapa rekan saya hari berikutnya tidak masuk kerja. Mereka mundur kerja. Resign karena kekecewaan tersebut. Dan akhirnya saya pun ikut ikutan. Saya pun ikut resign”. Beliau menimpali nasehat saya dengan penuh penyesalan.

Saya kembali mengatakan kepada nya “Lantas apa yang anda dapatkan ketika anda memutuskan hal tersebut. Apakah benar bahwa gaji OB itu lebih besar dari gaji anda sebagai operator?, apakah benar sikap anda memutuskan seperti jika memang seandainya gaji OB tersebut lebih besar dari anda tanpa anda mengetahui apa yang mendasari manajemen memberikan gaji lebih tersebut kepada OB tersebut. Namun pada intinya bahwa sikap anda lah yang menentukan pada akhirnya anda akan mendapatkan apa dan menjadi apa. Sikap yang salah selalu akan mendatangkan penyesalan di kemudian hari. Bukankah di dalam tulisan anda pada formulir yang kami berikan tersebut anda mengatakan bahwa anda sangat membutuhkan pekerjaan untuk memberikan nafkah kepada anak dan istri anda yang sudah 5 bulan nganggur. Dapur yang masih ingin mengepul. Artinya apa, anda gadaikan jaminan ketenangan kehidupan anda, istri dan anak anak anda dengan sebuah sikap yang seharusnya tidak anda lakukan. Emosi yang tidak tepat anda menjadikan ketenangan, kecukupan dari kehidupan keluarga anda. Sekarang anda menyesal dan sudah seharusnya anda menyesal”.

Mengutip perkataan seorang Professor Amerika Serikat yang menulis Buku Berfikir dan Berjiwa besar, David J Scwart, “sikap kita yang akan menentukan masa depan kita”, memang sangat relevan dan masih relevan untuk kita jadikan acuan dan referensi dalam kehidupan kita. Kalau saya sebagai seorang muslim paling tidak yang saya ketahui ada dua kaidah berkaitan dengan hal ini. Yang pertama adalah kaidah bahwa apapun yang kita lakukan, baik yang baik maupun yang buruk akan mendapatkan balasan dari Alloh SWT. Seperti yang terdapat dalam Al Quran Surat Al Zalzalah ayat 7 dan 8. “Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerejakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya”. Dan yang kedua adalah dalam Al Quran Surat Al Baqarah Ayat 216 yang menyatakan “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kami tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kami menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Bismillah, semoga kita menjadi pribadi yang selalu memiliki sikap positif bahkan terhadap sesuatu yang terjadi pada diri kita dan sesuatu itu tidak sesuai dengan keinginan kita. Karena sikap kita yang salam merupakah sebuah investasi keburukan yang suatu saat akan kita petik hasilnya dan kita selalu serahkan semuanya kepada Alloh dengan sikap dan belajar ikhlas, karena bisa jadi sesuatu yang tidak sesuai dengan diri kita sesungguhnya sesuatu yang baik bagi kita.

Tetap semangat

Lingkungan kita akan menentukan pikiran kita, dan pikiran kita akan menentukan tindakan kita. waspadalah

Pada tulisan saya sebelumnya saya membahas tentang bagaimana kekuatan pikiran kita akan menjadi penentu dari tindakan kita. Sedangkan tindakan kita adalah usaha dan proses menuju hasil yang akan kita dapatkan. Jika tindakan kita positif, semangat dan produktif maka akan mendapatkan hasil yang positif dan sesuai dengan keinginan serta harapan kita. Harapan untuk berhasil. Namun sebaliknya jika kita memiliki pikiran yang negatif maka tindakan yang akan kita lakukan adalah sebaliknya, yang akan cenderung berlawanan arah dari arah keberhasilan kita. Kita telah menginvestasikan kegagalan dengan pikiran negatif kita. Pada tulisan kali ini saya akan mengulas tentang salah satu faktor dan saya katakan ini adalah faktor yang paling dominan dalam pembentukan pikiran kita. Tidak lain dan tidak bukan adalah lingkungan kita. Yap, lingkungan kita adalah faktor dominan dalam pembentukan pikiran kita. Dan jika saya memberikan sebuah batas, maka sesungguhnya kita akan lebih cenderung berada dalam lingkungan yang mengajak kita untuk berfikir standar ke bawah. Bukan standar ke atas. Kebanyakan dari cara berfikir dari orang orang yang berinteraksi dengan kita adalah orang orang yang berfikir kecil. Mereka banyak memakai alasan Takdir untuk menutupi cara berpikir dan bertindak yang besar. Bahwa nasib yang menguasai kita. Sehingga parameter parameter keberhasilan itu seolah menjadi sesuatu yang berada di atas langit tanpa ada cara satupun untuk bisa meraihnya. Kita akhirnya dipaksa dengan kesadaran untuk melupakan mimpi mimpi itu, melupakan rumah yang besar itu, melupakan pendidikan yang lebih baik. Kita dipaksa untuk banyak diam dan berbaring tanpa melakukan tindakan yang besar. Karena pikiran kita yang menghalangi tindakan besar. Karena pikiran kita terbawa pada lingkungan kita. Setiap manusia tanpa di pungkiri ketika ditanya apa parameter keberhasilan anda, maka mereka akan mengatakan bahwa parameter keberhasilan adalah banyak hal yang mengagumkan dan positif. Keberhasilan merupakan kesejahteraan pribadi, rumah yang bagus, setahun atau bahkan setiap tiga bulan sekali liburan bersama dengan keluarga ke luar negeri, memiliki jaminan keuangan untuk anak dan istri serta keluarga besar kita. Sehingga mudah untuk memenuhi kebutuhan kebutuhan hidup ,baik yang primer, sekunder maupun tersier kita. Keberhasilan juga bisa diartikan sebagai sebuah kehormatan yang kita peroleh, kita mendapatkan respek dari setiap orang yang berinteraksi dengan kita karena kepemimpinan kita dan kepribadian kita. Dan lainnya makna keberhasilan yang berarti juga kita menjadi pemenang. Keberhasilan adalah tujuan hidup setiap orang. Saya berbicara secara fakta bahwa memang setiap orang menghendaki untuk berhasil. Namun keyakinan yang menjadi kekuatan pikiran positif kita ternyata tidak mampu mengimbangi tujuan hidup kita untuk berhasil. Sejauh yang saya alami, ketika saya berinteraksi dengan orang orang, berdiskusi dengan orang orang, bertemu dan melihat serta mempelajari orang orang saya mendapatkan sebuah kesimpulan, lebih dari 80% orang orang di sekeliling kita adalah orang yang cenderung berfikir standar ke bawah. Dan hal ini yang akhirnya mempengaruhi pikiran kita. Sedari kecil kita sudah mendapatkannya, sedikit sekali orang tua yang memberikan sugesti pikiran yang besar dan positif kepada anaknya ketika anaknya belajar berjalan, ketika anaknya belajar naik sepeda. “Hati hati nak, nanti terjatuh”, kalimat yang sepertinya biasa biasa saja namun sudah memberikan sebuah doktrin kepada anak anak kita agar mereka lebih baik berhenti dulu untuk berlatih, nanti dilanjutkan kembali. Atau nanti kalau sudah siap untuk berjalan dan siap untuk naik sepeda. Padahal jika kita mencermati kaidah ini, maka kita akan sepakat bahwa anak anak kita akan mendapatkan pelajaran dan pengalaman untuk bisa ketika sudah mencoba dan mencoba. Dengan kita mengatakan kalimat tersebut dengan tidak mengucapkan kalimat tersebut maka resiko untuk jatuh akan tetap ada. Namun sama sama terjatuh, kenapa kita tidak memberikan sugesti kalimat yang membangun pikiran mereka yang besar dan positif “Jagoan Abi nih, Jagoan ayah, pasti bisa berjalan dan pasti bisa naik sepeda dengan aman selamat”. Bagaimana sikap sikap orang tua kita ketika kita dari sekolah di cubit oleh rekan sekelas kita kemudian saat sampai rumah kita mengadu kepada orang tua kita. Kebanyakan dari orang tua kita akan mengatakan “Duh, siapa sih yang mencubit anak ayah”. Kita mendapatkan sebuah pengasihan dari orang tua kita atas apa yang kita alami. Dan kalimat ini adalah kalimat yang mendoktrin kita bahwa kita harus berada dalam suasana yang nyaman, tidak boleh terusik dengan sesuatu yang menyakitkan, sesuatu yang menbuat kita bisa menangis. Sesuatu yang sesungguhnya akan mendoktrin pikiran kita menjadi cara berfikir penakut, cara berfikir yang selalu berada dalam zona kenyamanan. Dan seterusnya dan seterusnya. Kita berinteraksi dengan rekan rekan kita, berinteraksi dengan guru dan dosen kita, dan setelah beranjak dewasa kita berinteraksi dengan rekan kerja kita, kuta berinteraksi dengan istri atau pasangan kita, kita berinteraksi dengan tetangga kita, kita harus selalu mewaspadai agar jangan sampai kita berada dalam suasanya yang menjadikan pikiran kita menjadi standar kebawah. Yang artinya menjadikan pikiran kita menjadi kecil. Karena pikiran kecil tidak akan membuahkan tindakan yang besar. Berani mengambil resiko yang besar. Untuk mendapatkan hasil yang besar. Beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk membentuk pikiran besar dari lingkungan kita adalah kita harus sering bergaul dengan orang orang yang berhasil. Bergaul dengan orang – orang yang sukses, orang yang memiliki pikiran yang besar dan telah terbuksi dengan kebesarannya dengan pencapaian pencapaian mereka. Saya tidak mengatakan bahwa kita tidak boleh berteman dengan sembarang orang. Saya katakan, silahkan berteman dengan sembarang orang, namun anda memiliki tombol pilihan masing – masing pribadi. Manakah orang orang yang akan anda jadikan pendorong untuk membesarkan pikiran dan akhirnya membesarkan tindakan anda dan mana yang bukan. Anda harusnya mengetahui. Saya teringat dulu, abah saya sering mengajak silaturahim saya dan kakak saya ke orang orang yang sukses di daerah sekitar tempat tinggal saya. Kami diajak silaturahim ke keluarga yang berhasil masuk ke perguruan tinggi negeri atau sekolah sekolah kedinasan. Dan kami mendapatkan banyak inspirasi semangat dari mereka. Suatu ketika kami juga diajak abah kami silaturrahim ke kyai pengasuh pondok pesantren sehingga kami juga akhirnya mendapatkan pelajaran pelajaran tentang akhirat. Kami juga diajak silaturahim kepada tokoh tokoh desa maupun kecamatan yang menjadi unsur pemimpin di wilayahnya, sehingga kami belajar tentang hakekat memimpin dan berjiwa melayani. Suatu ketika saya pernah bertanya kepada abah saya “kenapa kita sering dolan-silaturahim- ke orang orang bah?” Abah saya mengatakan “Mben awakmu ketularan (Biar dirimu ketularan)”. Ya, biar tertular suksesnya. Ketika kami bertemu dengan saudara kami yang sukses menempuh perkuliahan di perguruan tinggi negeri atau kedinasan, diharapkan agar saya bisa tertular keberhasilannya masuk perguruan tinggi negeri maupun kedinasan. Ketika kami seilaturahim dengan kyai dan pengasuh pondok pesantren, diharapkan agar saya bisa tertular keberhasilannya dalam urusan akhirat, bisa mengaji, membaca Al Quran dan mengerti hukun syariat agama Islam. Ketika kami silaturahim dengan orang orang yang menjadi pemimpin, maka diharapkan agar saya bisa tertular jiwa kepemimpinannya. Yang sesungguhnya dimana kita berada dan sering berinteraksi maka kita akan terpengaruh oleh mereka. Akan termotivasi untuk bisa seperti mereka dan kita akan berusaha mengikuti keberhasilan keberhasilan mereka. Walaupun saya dalam tulisan ini hanya bisa memberikan contoh contoh sederhana dari kehidupan saya pribadi dan di validasi dengan kehidupan beberapa rekan rekan atau kenalan kenalan saya, namun kaidah ini adalah kaidah yang sudah teruji. Bahkan sampai menjadi sebuah syariat kenabian dengan sebuah hadist Nabi Muhammad SAW yang berbunyi “permisalan teman yang baik dan teman yang buruk itu ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi bisa jadi percikan apinya mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tidak sedap”. Kawans, mulai sekarang kita evaluasi kembali dengan siapa kita berinteraksi, dengan siapa lebih banyak kita menghabiskan waktu untuk hari hari kita. Apa yang kita dapatkan untuk makanan makanan pikiran kita dari orang – orang yang berinteraksi dengan kita. Jika kita sudah menetapkan sebuah tujuan keberhasilan dalam hidup kita, maka harus kita mulai dengan siapa kita akan mulai bergaul. Untuk mendapatkan motivasi, bisa meniru, mencotoh dan menjadikan orang orang yang sudah berhasil tersebut sebagai pembina kita. Sebagai motivator kita. Teladan kita. Jangan sampai sebaliknya. Kita menginginkan menjadi pengusaha yang sukses namun kita lebih banyak berinteraksi dengan orang orang yang banyak menghabiskan waktunya di tempat kongkow kongkow dengan game online nya. Hal lain yang bisa kita lakukan untuk memastikan agar pikiran kita selalu mendapatkan makanan makanan yang bergisi positif dan besar adalah kita senantiasa membiasakan dan membudayakan pada arena dan wilayah yang bisa kita kendalikan untuk selalu berada dalam kondisi pikiran dan tindakan yang besar. Misalnya di rumah kita. Bagi kita yang menjadi kepala rumah tangga, seorang suami dan atau seorang ayah, kita bisa mulai dengan aktivitas dan perilaku keseharian kita. Jika anak anak kita mengeluh tentang sesuatu, kita bangkitkan dengan memberikan pikiran pikiran positif kepada mereka. Jika kita menyampaikan sebuah kegagalan atau sebuah hasil yang tidak sesuai dengan keinginan anda, dan kemudian anak atau pasangan kita memberikan pikiran yang standar atau bahkan yang negatif, maka harus segera kita kondisikan jangan sampai hal tersebut berlanjut. Karena jika berlanjut maka bukan hanya akan mengecilkan pikiran kita, namun bisa merugikan kita. Saya pernah mendapatkan sebuah cerita seorang kawan tentang suasana kantor istrinya yang sedang dilakukan audit internal. Salah seorang manajer di perusahaan tersebut terkena delik audit karena ada beberapa perjalanan dinas yang tidak sesuai dengan aturan kantor. Ketika dilakukan audit internal, manajer tersebut melawan dengan berbagai argumen. Walaupun sudah tau salah namun tetap saja memberikan argumen yang dilakukan untuk membenarkan tindakannya. Selidik punya selidik, kenapa begitu yakin dengan argumennya, tidak lain karena pengaruh dari suaminya di rumah yang mengatakan bahwa sang istri harus melawan audit internal tersebut. Padahal ini adalah sebuah langkah yang bukan hanya akan mengecilkan pikiran kita, namun juga akan memberikan dampak keburukan bagi sang ibu manajer. Pada kondisi kondisi yang bisa kita jaga dan bisa kita kelola suasanyanya, maka kita kondisikan agar diskusi diskusinya, saran sarannya, masukan masukannya adalah diskusi saran dan masukan yang besar, yang memberikan inspirasi besar dan kekuatan untuk melakukan tindakan yang besar. Suatu ketika tim saya menyampaikan kepada saya “Pak, pekerjaan ini kenapa di berikan kepada kita, bukankah pekerjaan ini harusnya menjadi pekerjaan departemen lain” saya mengatakan kepada mereka “terlepas dan pekerjaan milik siapa, yang saat ini sedang kami bahas bersama manajemen, satu hal yang patut kita bangga adalah bahwa kita dinilai mampu untuk melakukan tugas dan pekerjaan tersebut. Karenanya marui kita buktikan”. Dan tim kami pun antusias menyongsong pekerjaan tersebut. Ada banyak alasan bagi saya untuk menghindari pekerjaan tersebut. Namun itu bukan pilihan bagi saya dan tim saya. Karena kami ingin menjadi tim yang hebat, diisi oleh orang orang yang hebat, dengan tindakan tindakan yang hebat karena diawali dengan pikiran pikiran yang hebat. Lingkungan akan menentukan pikiran kita. Dan pikiran kita akan menentukan tindakan kita. Waspadalah. Bersambung tetap semangat